Cerita pembunuh berantai dari Agam, kelabui korban via Facebook

Reporter : Iqbal Fadil | Jumat, 3 Mei 2013 04:20




Cerita pembunuh berantai dari Agam, kelabui korban via Facebook
Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Pihak Kepolisian Resor Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengungkap dua kasus pembunuhan keji terhadap dua korban perempuan. Satu tersangka bernama Wisnu Sadewa (31) dibekuk. Diduga masih ada korban lainnya.

Korban pertama yakni Novrida Yanti (23), warga Kampung Caniago Tangah, Jorong Balai Badak, Nagari Batu Kambiang, Kecamatan Ampek Nagari Kabupaten Agam. Sedangkan korban kedua yaitu Rusyda Nabila (16), siswi Diniyah Limo Jurai, yang tinggal di Limo Suku, Nagari Sungaipuar, Kecamatan Sungaipuar, Kabupaten Agam.

"Kedua korban yang dibunuh tersebut dikenal tersangka Wisnu Sadewa melalui jejaring sosial facebook," kata Wakapolres Kota Bukittinggi Arif Budiman seperti dikutip Antara.

Terungkapnya kasus pembunuhan tersebut berawal dari Rusyda Nabila dilaporkan hilang sejak 20 Maret 2013. Saat diperiksa intensif di Mapolres Bukittinggi, pelaku mengakui Nabila merupakan kenalannya di Facebook. Sebelum pembunuhan terjadi, keduanya baru kenal sekitar dua pekan.

MA vonis mati pelaku mutilasi ibu dan anak
Mengaku hamil, gadis di Sleman dibunuh lalu dibakar


Untuk mengelabui korban, Wisnu menggunakan akun palsu bernama Rani Nurdiati, yang mengaku mahasiswi Universitas Negeri Padang. Keduanya kerap chatting dan bertukar pesan. Setelah merasa korban sudah akrab, pelaku kemudian mengajak kopi darat alias bertemu. Lokasi yang ditentukan adalah kawasan simpang Padanglua, Kecamatan Banuhampu.

Nabila kemudian minta izin kepada orangtuanya untuk bertemu Rani alias Wisnu pada Rabu (20/3). Saat Nabila sudah berada di lokasi, Wisnu muncul sekitar pukul 19.00 WIB dan mengatakan Rani tidak bisa datang dan dia disuruh menjemput Nabila.

"Korban tidak tahu kalau Wisnu adalah orang yang mengaku Rani," kata Kbid Humas Polda Sumbar M Sugianto yang dihubungi merdeka.com.

Korban sempat menolak ajakan tersebut karena curiga. Wisnu pun pulang ke rumah orangtuanya yang tidak jauh dari lokasi. Karena sudah malam dan angkot ke rumahnya sudah tidak ada, Nabila kemudian mengirim SMS kepada Wisnu yang meminta dijemput dan dipertemukan dengan Rani. SMS itu dibalas Wisnu yang meminta Nabila naik ojek ke rumahnya dan ongkos ojek akan diganti.

Nabila menuruti saran dari pelaku, termasuk turun di simpang Jorong Dalam Koto, Pakansinayan, Kecamatan Banuhampu. Sampai di tempat itu, pelaku sudah menunggu dan mengajak korban ke rumahnya.

Saat itulah Nabila mulai curiga, karena Wisnu mengajaknya lewat semak-semak. Nabila pun berupaya kabur. "Nabila hendak lari, saya langsung merangkulnya dari belakang. Saya langsung merampas handphone dia," tutur Wisnu kepada penyidik.

Wisnu pun lantas menghabisi korban. Sebelum meninggal, korban sempat diperkosa. Setelah meninggal, korban dikubur sedalam setengah meter di areal persawahan Jorong Dalam Koto, Nagari Pekan Sinayan. Karena tidak ada barang berharga yang bisa diambilnya dari korban selain uang Rp 3.000 dan satu unit handphone.

Tak puas mendapat harta yang sedikit, tersangka lalu minta tebusan kepada orangtua korban melalui nomor hp yang diambilnya dari korban.

Awalnya tersangka minta tebusan sebesar Rp 10 juta untuk mengembalikan korban. Namun, pihak keluarga korban sempat bernegosiasi dan menawar biaya tebusan sebesar Rp 5 juta.

Dari hubungan komunikasi tersebut, polisi yang bekerja sama dengan operator seluler berhasil melacak identitas dan keberadaan tersangka. Senin (29/4), sekitar pukul 16.00 WIB tersangka dibekuk ketika sedang nongkrong di sebuah kedai kawasan Koto Gadang, Kabupaten Agam.

Kepada polisi, tersangka mengaku sebelumnya juga telah membunuh Novrida Yanti, yang jasadnya dibuang di semak-semak daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam.

Atas pengakuan dari tersangka, Rabu (1/5), polisi langsung membawa Wisnu untuk menujukkan lokasi pembuangan jasad korban. Di lokasi itu, petugas menemukan tulang belulang kerangka manusia yang berserakkan serta pakaian yang telah kusam.

"Setelah dikumpulkan, kerangka manusia tersebut dibawa ke RSAM Bukittinggi," kata Wakapolres.

Polresta Bukittinggi masih melakukan pengembangan dalam kasus itu, karena tidak tertutup kemungkinan jumlah korban pembunuhan yang dilakukan tersangka bertambah. Sebelumnya ada laporan orang hilang yang diterima pihak kepolisian.

Tim forensik dan keluarga korban sulit mengidentifikasi tulang yang ditemukan karena telah menjadi rangka. Namun keluarga korban memastikan jika pakaian yang dikenakan korban merupakan pakaian anaknya. Tim forensik telah mengambil sampel DNA dari rangka yang ditemukan dan membandingkan dengan keluarga korban.

Wisnu juga mengaku membunuh Novrida Yanti (23), warga Jorong Balai Badak, Kenagarian Batukambiang, Kecamatan IV Nagari, Agam. Motifnya sama. Dia menggunakan akun Facebook bernama Amel untuk berkenalan dengan Yanti.

Pertemanan mereka berlangsung selama satu bulan sebelum Wisnu mengajak Yanti bertemu di Bukittinggi. Wisnu mengaku diminta Amel untuk menjemput korban.

Tanpa rasa curiga, Yanti menurut ajakan Wisnu. Mereka memutuskan naik angkutan umum menuju Padangpanjang dan turun di simpang Padanglua. Ketika itu hari sudah malam. Wisnu mengajak Yanti naik ojek dengan cara bonceng tiga menuju daerah Kotogadang.

Setelah sampai di tujuan sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka menunjukkan kalau rumahnya ada di tengah sawah, berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya dan harus lewat pematang sawah.

Ketika berada di semak-semak, Wisnu kemudian beraksi mencekik leher korban. Jilbab yang dipakai korban dililitkan di leher sehingga Yanti tak bisa bergerak. Setelah yakin, korbannya meninggal Wisnu kemudian melucuti perhiasan korban, handphone, dan uang sebesar Rp 150 ribu dari dompet. Korban ditinggalkan begitu saja. Pembunuhan itu terjadi beberapa bulan lalu.

Pihak keluarga mengatakan, Novrida Yanti menghilang sejak 3 Februari 2013.

Dalam dua kasus ini, polisi menjerat Wisnu dengan pasal 340 jo 338 KUHP jo pasal 80 ayat 3 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Baca juga:
8 Orang hilang, diduga korban pembunuh berantai di Agam
Pembunuh berantai dari Agam, tusuk leher korban dua kali
Pembunuh berantai dari Agam, cari mangsa lewat Facebook

[bal]

KUMPULAN BERITA
# Pembunuhan Sadis

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER

LATEST UPDATE
  • Jadi 'kekasih' Vino G Bastian, Tantri Kotak canggung
  • Sekjen PDIP: Rekomendasi Megawati ketum lagi tidak diskenariokan
  • Tolak berhenti, anggota TNI dipukul tongkat oleh polisi cepek
  • Mereka berpegangan tangan selama kurang lebih 700 tahun
  • Jokowi: 80 persen PPP dan PAN merapat
  • Gelar apel akbar, Gerindra beri arahan 5.000 kader pasca pilpres
  • Pecinta kuliner rela antre jika cita rasa memuaskan
  • Aniaya Kekasih, Kim Hyun Joong bakal jadi Chris Brown Korea?
  • Bagaimana nasib Festival Banyuwangi usai ditinggal Bupati Anas?
  • Jokowi yakin Koalisi Merah Putih tak bertahan lama
  • SHOW MORE