Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur nampak antusias menyoroti persoalan keamanan dan keselamatan berkendara yang dipaparkan beberapa narasumber berkompeten. Dalam 'Seminar Safety Riding', para Mahasiswa membanjiri narasumber dengan beragam pertanyaan.
"Kami berharap mahasiswa dapat tercerahkan dari seminar ini. Masalah safety riding sudah menjadi masalah harga diri bangsa," ujar Ahmad Rusdiansyah, Kepala Badan Koordinasi, Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP) ITS Surabaya saat membuka seminar.
Dalam diskusi juga mencuat bagaimana seputar masalah teknis berkendara yang aman dan selamat. "Bagaimana menghitung jarak aman saat berkendara," tanya seorang mahasiswa. "Atau bagaimana pengereman yang aman dan selamat?" tanya mahasiswa lainnya.
Terkait kedua hal itu, Johanes Lucky, senior analyst Training Development PT Astra Honda Motor mengajak mahasiswa untuk memakai jarak aman dua detik. "Caranya, bisa menempatkan obyek tidak bergerak sebagai patokan. Misalnya, pohon. Ketika motor di depan melintasi pohon itu maka kita menghitung dari satu hingga dua, kita melintasi pohon itu dalam hitungan kedua setelah motor di depan kita melintas," paparnya.
Sedangkan soal pengereman yang aman dan selamat, Johanes menuturkan, pengereman yang efektif di sepeda motor adalah dengan dominan rem depan. Porsinya, kata dia, 60 rem depan dan 40 rem belakang.
Di sisi lain, mahasiswa juga mempertanyakan bagaimana solusi yang disodorkan para produsen sepeda motor terkait dengan keselamatan jalan. Saat ini, kata mahasiswa itu, pemerintah mempunyai program penyediaan angkutan umum massal yang diharapkan juga mengurangi potensi kecelakaan dalam penggunaan kendaraan pribadi. Maklum, mayoritas kecelakaan melibatkan sepeda motor sebagai salah satu jenis kendaraan pribadi.
"Bagaimana solusinya agar industri tetap bertumbuh dan angkutan umum juga berjalan dengan baik," tanya mahasiswa tersebut.
Dalam kacamata Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang menjadi salah satu pembicara, sepeda motor masih menjadi alternatif transportasi. Peran industri dalam soal keselamatan jalan salah satunya adalah dengan memproduksi sepeda motor yang memenuhi standar keselamatan.
Selain itu, katanya, para produsen juga gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan safety riding. "Soal transportasi umum, itu peran pemerintah, kami dukung dan berharap dapat terwujud dengan baik. Sedangkan kami industri menyumbang pendapatan negara dan menyerap tenaga kerja," katanya.
(kpl/nzr/lrs)Advertisement