OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) adalah gangguan yang ditandai dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsif. OCD test merupakan tes bagi penderita OCD. Kondisi OCD bisa diamati dari gejala dan faktor risiko yang dimiliki penderita.
Gangguan OCD memicu seseorang memikirkan sesuatu secara terus-menerus hingga menimbulkan rasa cemas. OCD harus segera ditangani atau diatasi dengan perawatan tepat. Bila tidak, kondisinya bisa semakin memburuk dan merugikan fisik, mental, dan kehidupan sosial penderitanya.
Meski OCD test dapat diamati dari sejumlah gejala yang umum dialami penderita dan faktor risikonya, ini masih kurang tepat. OCD adalah kondisi mental yang tidak bisa didiagnosis sendiri tanpa bantuan ahli. Maka sangat direkomendasikan untuk OCD test dengan memeriksakan diri ke psikolog.
Berikut penjelasan lengkap tentang OCD test, gejala, faktor risiko, pengobatan, dan jenis-jenisnya dirangkum dari klikdokter.com dan liputan6.com, Jumat (24/9/2021).
Advertisement
Pengidap OCD biasanya akan merasa harus melakukan sesuatu berulang kali, meskipun sebenarnya mereka tidak menginginkannya. OCD test bisa dilakukan dengan mengamati gejala OCD yang umum terjadi.
Berikut gejala OCD test melansir klikdokter.com:
1. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya sering kehilangan fokus di tempat kerja.
2. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya kerap mengalami kesulitan di sekolah.
3. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya terlalu sering mengalami depresi.
4. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya kerap mengalami serangan panik.
5. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya tiba-tiba atau beberapa kali memiliki pikiran untuk bunuh diri.
6. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya sering mengalami kelelahan fisik tanpa alasan yang jelas.
7. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya mengalami kelelahan emosional berlebihan.
8. OCD test dapat dikenali bila pengidapnya dalam beberapa kasus mengisolasi dirinya dari masyarakat.
Advertisement
OCD adalah kondisi yang bisa muncul selama masa kanak-kanak atau remaja, dan ini jarang terjadi setelah usia 40 tahun. Pengidap OCD biasanya sering terjebak dalam siklus obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah pikiran, gambaran, atau dorongan yang tidak diinginkan dan mengganggu yang memicu perasaan tertekan secara intens. Kompulsi adalah perilaku yang dilakukan seseorang untuk mencoba menyingkirkan obsesi dan/atau mengurangi kesulitannya.
Berikut faktor risiko untuk OCD test:
1. Faktor risiko untuk OCD test jatuh pada pasien yang memiliki anggota keluarga yang juga menderita OCD.
Seseorang lebih mungkin menderita OCD jika ada anggota keluarga yang juga menderita OCD. Para ahli percaya bahwa ada kemungkinan gen tertentu dapat berperan dalam perkembangan OCD, tetapi mereka belum menemukan gen spesifik yang menyebabkan OCD.
2. Faktor risiko untuk OCD test jatuh pada pasien yang menderita gangguan mental.
Kimia otak juga dapat berperan terhadap OCD. Beberapa penelitian menunjukkan gangguan fungsi di bagian otak tertentu atau masalah dengan transmisi bahan kimia otak tertentu, seperti serotonin dan norepinefrin, dapat menyebabkan OCD.
3. Faktor risiko untuk OCD test jatuh pada pasien yang pernah mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan.
Ada kemungkinan juga bahwa trauma, pelecehan, atau peristiwa stres lainnya dapat berperan dalam perkembangan OCD dan kondisi kesehatan mental lainnya.
Pengobatan OCD
Bila sudah melakukan OCD test dan terdiagnosis menderita OCD, pengobatan bukan tak mungkin dilakukan. Melansir dari klikdokter.com, menurut seorang Psikolog, Gracia Ivonika, M.Psi., gangguan OCD bisa ditangani dengan perawatan yang tepat.
Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh individu yang telah didiagnosis OCD adalah menyadari dan melatih kontrol diri untuk mengurangi perilaku tersebut. Melansir Healthline, pengobatan OCD akan bergantung pada tingkat keparahan masing-masing penderitanya.
Perawatan untuk mengatasi OCD biasanya mencakup psikoterapi dan obat-obatan. Psikiater dapat meresepkan obat antidepresan untuk membantu mengurangi gejala OCD.
Salah satu obat yang banyak digunakan oleh penderita OCD adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Obat antidepresan ini dapat mengurangi gejala perilaku obsesif dan kompulsif.
Selain obat, psikiater juga akan memberikan terapi yang membantu penderita OCD untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang mengganggu. Biasanya terapi yang diterapkan adalah terapi perilaku kognitif (CBT).