Bukan Hand Sanitizer, Warga Desa di Banjarnegara Kebagian Ini Untuk Cuci Tangan

Umumnya lembaga pemerintah membagikan hand sanitizer untuk membuat warganya rajin mencuci tangan. Namun berbeda dengan apa yang dilakukan para relawan di Desa Pagak, Purwareja Klampok, Banjarnegara. Mereka justru membagikan padasan yang terbuat dari galon air agar warganya rajin cuci tangan agar terhindar dari COVID-19

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Bukan Hand Sanitizer, Warga Desa di Banjarnegara Kebagian Ini Untuk Cuci Tangan
Padasan Galon Air. ©2020 liputan6.com

Belum ada penurunan signifikan terhadap jumlah kasus virus Corona di Indonesia. Oleh karena itu, warga diminta untuk tetap waspada agar penyebaran virus tidak sampai ke tempat mereka.

Ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat terkait pencegahan virus Corona. Salah satunya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik.

Selain dengan sabun dan air mengalir, membersihkan tangan juga dapat dilakukan dengan hand sanitizer. Oleh karena itulah, kemudian banyak relawan atau lembaga pemerintah yang membagikan hand sanitizer kepada masyarakat.

Namun, berbeda yang dilakukan oleh pemerintah dan para relawan sebuah desa di Kabupaten Banjarnegara. Para relawan di Desa Pagak, Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara justru membagikan padasan sebagai tempat cuci tangan para warganya.

Padasan pada umumnya dibuat dari gentong/ tempayan yang diberi lubang pancuran dan disumpal dengan karet atau kayu. Benda itu kemudian diletakkan di depan rumah dan orang yang hendak masuk rumah harus terlebih dahulu mencuci tangan dan kakinya dengan alat itu.

Namun, berbeda dengan padasan yang dibuat oleh para relawan di Desa Pagak. Mereka justru membuat padasan dengan galon air mineral. Berikut selengkapnya:

Padasan Galon Mineral

Pada zaman dulu, padasan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal orang Jawa. Hanya saja kini budaya itu kian surut karena mencuci tangan dan kaki bisa dilakukan di kamar mandi masing-masing.

Namun, dengan merebaknya virus Corona, budaya padasan kembali digalakkan. Hanya saja tidak seperti zaman dulu. Pada masa kini, padasan dibuat dari galon air mineral. Biar lebih praktis.

Untuk membantu warganya, Pemdes Pagak sendiri telah menyiapkan sebanyak 900 padasan yang terbuat dari galon air mineral. Kepala Desa Pagak, Sudarwo, berharap dengan adanya padasan itu kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat akan meningkat.

"Harapannya dengan adanya pembagian alat cuci tangan itu kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat akan meningkat, serta dapat memutus rantai penyebaran virus," ujar Sudarwo dilansir Liputan6.com pada Minggu (12/4).

Penyemprotan Disinfektan Seminggu Sekali

Selain dengan membagikan padasan, relawan di Desa Pagak juga menyemprotkan cairan disinfektan ke rumah-rumah setiap seminggu sekali. Sasaran dari penyemprotan itu adalah seluruh rumah dan fasilitas umum yang ada di Desa Pagak.

Dalam menjalankan misinya itu, para relawan juga mendapatkan fasilitas APD seperti mantel, sepatu boot, masker, sarung tangan, dan juga vitamin agar kondisi kesehatan para relawan juga terjaga.

Pemantauan Pemudik

Salah seorang relawan, Pradikta Dimas mengatakan di Desa Padasan sendiri tercatat ada 127 pemudik yang datang dari luar daerah. Mereka kebanyakan datang dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Semarang, Sragen, Surakarta, Yogyakarta, Jombang, dan Surabaya.

Sementara itu, ada 3 orang pemudik yang datang dari luar negeri. Sesuai dengan ketentuan pemerintah, para pemudik itu langsung diminta untuk mengisolasi diri di rumah masing-masing.

"Kami meminta pemudik membuat surat pernyataan agar mematuhi anjuran pemerintah menerapkan isolasi diri di rumahnya masing-masing," ujar Pradikta dilansir Liputan6.com pada Minggu (12/4).

Anggaran Penanggulangan COVID-19 di Desa Pagak

Pemerintah Desa Pagak sendiri menganggarkan Rp 160,8 juta untuk penanggulangan virus Corona di Desa Pagak. Anggaran itu diambil dari Dana Desa tahun anggaran 2020. Namun dalam penerapan program itu, tak lepas dari peran masyarakat yang bekerja sama dengan lembaga setempat,

"Semua ini merupakan bentuk gotong royong masyarakat desa dengan selalu berkoordinasi dengan forkompincam Purwareja Klampok dan Puskesmas 2 Purwareja Klampok," ujar Sudarwo dilansir Liputan6.com pada Minggu (12/4).

Rekomendasi