Lima orang nelayan sebagai perwakilan Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) menyerahkan dua boks ikan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mereka meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menghentikan reklamasi di teluk Jakarta, terutama Pulau G.Salah satu anggota KNT Saefudin mengatakan, dalam boks tersebut terdapat ikan alu-alu, udang rebon, ikan tembang, ikan blonang dan rajungan. Hasil bumi seberat 20 kilogram tersebut ditangkap di teluk Jakarta, di mana pembuatan daratan tengah dilakukan."Kami ingin Pak Gubernur cabut izin reklamasi dan amdal itu bodong, yang bisa hentikan reklamasi hanya Pak Gubernur, supaya kami bisa hidup di sana (Muara Angke)," kata Saefudin di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (19/4).Lokasi Pulau G yang tidak berada jauh dari Muara Angke membuat nelayan semakin sulit untuk melaut. Karena keberadaan pulau yang dikerjakan PT Muara Wisesa Samudera ini berada di atas tempat mereka menangkap ikan."Dan itu tempat kami mencari ikan, di pulau c dan d. Saya KTP DKI. Kalau masalah kandungan timah, merkuri itu akibat dari reklamasi. Jadi limbah dari 13 sungai itu sudah terpendam sekian tahun, dan kami harus jauh lagi nyarinya," ungkapnya.Saefudin menceritakan, pada tahun 2014 di teluk Jakarta cukup melimpah ruah. Bahkan pada tahun 2015, dia mengaku mampu mengangkut dua ton bahkan tiga ton dalam sehari. Namun, semenjak adanya reklamasi ikan tersebut sudah tidak dapat diperolehnya."Sekarang boro-boro. Kebetulan saya nelayan kursin. Sekarang paling dua kuintal, sekuintal. Saya lahir di Muara Angke," tandasnya.
Reklamasi teluk Jakarta bikin tangkapan ikan nelayan menyusut
Mereka meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menghentikan reklamasi di teluk Jakarta, terutama Pulau G.
Advertisement
Rekomendasi