Saat ini terdapat ketersediaan makanan yang cukup untuk seluruh masyarakat di dunia. Namun masih banyak penduduk dunia yang mengalami keterbatasan bahkan kekurangan pangan dan kelaparan, baik itu karena kemiskinan suatu rumah tangga dalam ketidakmampuannya dalam memenuhi makanan untuk kebutuhan hidupnya, ataupun kelaparan yang diakibatkan oleh bencana maupun konflik.
Salah satu negara yang mengalami bencana kelaparan adalah Sudan. Jauh sebelum Sudan Selatan merdeka, kondisi pangan negara ini tidaklah baik karena situasi politik dan konflik yang terus terjadi yang membuat berjalannya pertumbuhan ekonomi menjadi buruk.
Hingga pada tahun 2011, ketika Sudan Selatan memisahkan diri dari Sudan kondisi pangan semakin memburuk. Banyak rakyat Sudan Selatan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, sehingga memicu terjadinya kelaparan yang sangat buruk.
Hal yang sama juga pernah terjadi pada tahun 1998, di mana PBB mengenalkan program pangan untuk mengatasi aksi kelaparan di Sudan, tepatnya pada tanggal 11 Juni 1998. Berikut informasinya telah dirangkum merdeka.com melalui repository.umy.ac.id pada Jumat, (10/06/2022).
Advertisement
World Food Programme yang diciptakan awalnya dijadikan sebagai sebuah percobaan untuk memberikan bantuan makanan melalui sistem PBB yang kemudian program ini akan ditinjau kembali dalam kurun waktu tiga tahun.
Pada awal kemunculannya, PBB tidak serta merta membentuk WFP langsung matang begitu saja, namun sejarah berdiri WFP sendiri diawali oleh adanya kekurangan pangan yang disebabkan oleh bencana alam yang terjadi di beberapa negara.
WFP sendiri pertama kali didirikan pada tahun 1961 setelah adanya Konferensi Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 1960. WFP secara resmi memulai pekerjaannya pada tahun 1963 dengan mandat dari FAO dan Majelis Umum PBB berdasarkan percobaan yang diberikan selama tiga tahun. Pada tahun 1965, program tersebut diperluas ke dasar yang berkelanjutan.
Advertisement
Hingga pada 11 Juni 1998, PBB telah mendeklarasikan rakyat Sudan mengalami bencana kelaparan yang parah di mana lebih dari satu juta orang kekurangan makanan. Selain itu, PBB juga sempat memprediksi 1,2 juta orang bisa saja meninggal karena kelaparan tersebut.
Kejadian dramatis tersebut membuat warga dunia merasa prihatin dan menyerukan operasi bantuan yang pernah terjadi sebelumnya untuk membantu mereka yang paling berisiko di beberapa daerah di Sudan atau negara lainnya yang disebut oleh PBB sebagai zona kelaparan.
Pusat pemberian makan anak dalam program pangan PBB dijalankan oleh kelompok medis, di mana kelompok tersebut menemui anak-anak yang kurus kering dan orang dewasa yang tak lebih baik kondisinya.
Sebanyak 100 ribu orang tewas karena kelaparan di Sudan sepanjang tahun 1998, kondisi yang sangat memprihatinkan ini membuat program pangan PBB berusaha meningkatkan distribusi makanan melalui jalur udara.