Sudah empat bulan lamanya Sudirman tinggal di tenda pengungsian, pasca gempa Banten 6,7 magnitudo di Desa Cibitung, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Januari lalu. Ia menetap bersama istri dan kedua anaknya. Tak ada pilihan lain, rumahnya kini telah rata dengan tanah.
Sehari-hari, Sudirman hanya bisa hidup seadanya di dalam tenda yang dibangun oleh Kementerian Sosial tersebut. Kepada wartawan, Sudirman tak berharap banyak selain menanti tempat tinggal yang dijanjikan oleh pemerintah untuk korban gempa.
"Sampai sekarang ini alhamdulillah masih (tinggal) di dalam tenda" kata Sudirman, dikutip dari YouTube Fokus Indosiar, Rabu (18/5).
Advertisement
Sejak Januari, Sudirman mulai menempati tenda bantuan tersebut bersama keluarganya. Sejak itu, dirinya terus menanti kepastian bantuan rumah yang disebut akan diberikan kepada korban yang rumahnya berkategori rusak parah.
Menurutnya banyak dari kalangan pemerintah yang datang ke lokasi bencana gempa tersebut, namun hingga sekarang belum ada kepastian informasi terkait kapan rumahnya akan dibangun.
"Wakil presiden cuma nyuruh sabar, nanti juga rumahnya mau dibangun lagi. Kalo nggak bisa, tanahnya mau digeser," terang Sudirman.
Advertisement
Walau tinggal di pengungsian, Sudirman mengaku telah mendapat sejumlah bantuan termasuk bahan bangunan seperti semen dan ribuan batu bata. Bahan tersebut datang dari para relawan, dan kini menumpuk di sekitar lokasi tenda pengungsian.
Namun pekerjaannya yang hanya sebagai serabutan, memaksanya menunda mimpi untuk memiliki rumah karena tak mampu membangun. Selama ini penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari bersama keluarganya.
Selain Sudirman, masih ada 11 warga lainnya di Cibitung yang masih tinggal di dalam tenda pengungsian Kemensos. Ia terus memperjuangkan haknya bersama warga lain untuk memiliki rumah yang sempat dijanjikan oleh pemerintah dan wakil presiden.