Takut radiasi nuklir Fukushima, banyak ibu gugurkan bayinya

Kerugian akibat radiasi nuklir di Fukushima sekitar Rp 1.980 triliun.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Takut radiasi nuklir Fukushima, banyak ibu gugurkan bayinya
Foto udara tiga reaktor nuklir bocor di Provinsi Fukushima, Jepang. (tokyoezine.com)

Kebocoran nuklir akibat tsunami di Provinsi Fukushima, Jepang, tahun lalu rupanya masih menimbulkan imbas sampai sekarang. Banyak ibu khawatir pada masa depan janinnya dan pilih menggugurkan mereka.Fakta miris ini direkam oleh sutradara dokumenter Ian Thomas Ash dalam film In Containment. Beberapa ibu warga Kota Minasoma, 25 kilometer dari lokasi reaktor nuklir TEPCO, mengaku fenomena aborsi itu nyata. "Banyak tetangga saya tidak berani punya anak dalam kondisi seperti ini. Saya melihat beberapa perempuan hamil, tiba-tiba tidak lagi mengandung," ujar satu narasumber tidak disebut namanya, seperti dilansir surat kabar Mainichi Shimbun, Selasa (5/7).Kota Minasoma salah satu wilayah paling terdampak radiasi nuklir. Puluhan ribu warga di Fukushima, wilayah timur Jepang, terancam jiwanya setelah tiga reaktor milik perusahaan energi TEPCO rusak akibat gempa dan terjangan tsunami, Maret tahun lalu.Pemerintah Jepang langsung mengevakuasi warga di radius kurang dari 10 kilometer dari fasilitas reaktor bermasalah itu. Negeri Matahari Terbit itu mencatat kerugian hingga 16,9 triliun yen atau sekitar Rp 1.980 triliun.Namun, dari hasil investigasi teranyar pakar nuklir, kecelakaan Fukushima itu tidak bisa dianggap murni bencana alam. Ketua penyelidikan independen dari Universitas Tokyo, Kiyoshi Kurosawa, menilai TEPCO bertanggung jawab karena tidak memberi perlindungan memadai. "Bencana Fukushima sebetulnya bisa diprediksi jauh-jauh hari, namun perusahaan tidak berupaya menginformasikan potensi nuklir pada warga sekitar," ujar Kurosawa di Ibu Kota Tokyo, kemarin.Berbarengan dengan hasil penyelidikan menyudutkan TEPCO, para ibu di Fukushima bersiap menggugat perusahaan itu. Dalam rombongan penggugat, ada pula kaum ibu dari Kota Minasoma.Menurut pemimpin kelompok pegiat ibu-ibu ini, Ruiko Muto, kehidupan warga direnggut secara psikologis akibat kebocoran nuklir itu. Mereka menolak upaya pemerintah Jepang menghidupkan lagi reaktor Fukushima. "Kami bahkan sekarang was-was setiap membuka jendela. Kami tidak akan berhenti menggugat meski kalah di pengadilan," ujar Muto.Hingga 15 bulan setelah peristiwa kebocoran nuklir, harian Yomiuri Shimbun mencatat 573 korban tewas diduga kuat akibat radiasi di Fukushima. Total korban jiwa akibat tsunami 2011 lebih dari empat ribu orang.

Rekomendasi