Pendukung Sayap Kiri Filipina merasa cemas atas ancaman dikeluarkan oleh Presiden Rodrigo Duterte tentang pembentukan 'pasukan pembunuh'. Pasukan ini rencananya akan ditugaskan untuk memburu dan membunuh para pemberontak dari kelompok separatis.
Menurut pendukung Sayap Kiri, rencana ini hanya menimbulkan kritik yang akan memicu sejumlah pembunuhan yang mirip dengan perang berdarah narkoba yang dibuatnya.
Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (28/11), pendukung Sayap Kiri dan beberapa anggota parlemen mengatakan Duterte hanya akan memperburuk iklim ketakutan dan kekebalan hukum yang ada, dengan mengancam akan melepaskan pasukannya sendiri pada milisi komunis atau yang akrab disebut New People's Army (NPA), yang telah melancarkan pemberontakan tingkat rendah di Filipina selama beberapa dekade.
Duterte mengatakan pasukannya ini akan menandingi 'sparrows' milik NPA, pasukan yang dikerahkan komunis bertugas untuk membunuh polisi Filipina selama tahun 1970 hingga 1980. Namun, tidak jelas apakah 'sparrows' itu masih ada atau tidak.
"Itu adalah kelebihan mereka. Jadi saya akan menciptakan sparrow saya sendiri," kata Duterte dalam pidatonya hari Selasa.
Pendiri Partai Komunis Filipina yang diasingkan, Jose Maria Sison, membantah adanya sparrow dan mengatakan Duterte menggunakannya sebagai dalih untuk membunuh orang yang dicurigai sebagai pemberontak Maoist.
Sison mengaitkan hal itu dengan kampanye anti narkoba Duterte, di mana ratusan ribu orang tewas telah tewas karena dicurigai sebagai pengguna dan penyebar. Para aktivis mengatakan banyak yang tampaknya telah dieksekusi, namun polisi sendiri menyangkal bahwa kematian ribuan orang itu adalah aksi tembak-menembak yang dilakukan antar pengedar narkoba.
"Dia hanya membuat alasan untuk membentuk pasukan pembunuhnya sendiri. Siapa pun yang tertuduh dapat dibunuh karena polisi memiliki izin untuk membunuh," kata Sison pada News Channel ANC.