Pada malam musim panas yang lembab, Shanti Devi (65) mendapat kabar yang dia tunggu-tunggu selama 38 tahun.
Pada 13 Agustus malam tahun ini, Dewi sedang sibuk menyiapkan puja atau persembahyangan Hindu, menghidupkan lampu teplok dan menyanyikan lagu puja di rumahnya ketika telepon berdering.
Devi jarang mau mengangkat telepon ketika sedang bersembahyang, tapi malam itu, dia melakukannya.
"Saya punya perasaan mungkin akan ada sesuatu yang penting," ujarnya saat ditemui di rumahnya di Haldwani, negara bagian Uttarakhand, India, dikutip dari Aljazeera, Senin (12/12).
Orang yang menelpon itu dari kepolisian negara bagian dan menanyakan Devi nomor identifikasi militer suaminya, yang biasanya terukir pada label yang dikenakan di leher.
Dia hafal nomor itu: 4164584.
Suami Devi, Chandrashekhar Harbola adalah seorang tentara angkatan darat India yang ditempatkan di Glasier Siachen. Berlokasi di perbatasan antara India, Pakistan, dan China di Himalaya barat, Siachen merupakan salah satu medan tempur tertinggi di dunia.
Pada 29 Mei 1984, unit patroli 18 anggota termasuk Harbola terjebak longsor salju saat tengah malam. Jasad 13 tentara ditemukan beberapa pekan setelah pencarian, namun Harbola dan empat anggota lainnya hilang.
Hampir empat dasawarsa setelah menghilang, jasad Harbola ditemukan tentara yang melakukan patroli rutin. Dia dikenali melalui tagnya.
Siachen, seperti glasier Himalaya lainnya, semakin mencair akibat krisis iklim dalam beberapa dekade terakhir.
Kini Devi akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada suaminya.
"Selama 38 tahun menunggu, berduka, bersedih sendirian," kata Devi.
Setelah telepon pada malam itu, datang panggilan lainnya yang menanyakan alamat keluarga Devi. Putrinya juga mendapat SMS yang menyatakan jasad ayahnya telah ditemukan.
Ibu dan anak itu tertegun dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Ada kegembiraan juga duka," kata Devi yang duduk di antara trofi dan serfitikat serta buku tentang konflik di Siachen yang menyebut menyinggung suaminya.
"Selama bertahun-tahun ini, berbagai pikiran bermunculan. Kadang-kadang saya berpikir: 'Mungkin dia tidak mati. Mungkin dia akan pulang.' And di lain waktu, pikiran bahwa dia ditangkap oleh musuh muncul," jelas Devi.
"Saya biasa membayangkan berbagai macam skenario. Saya berharap suatu hari akan datang kabar darinya."
Ketika jasad Harbola tiba di rumah pada 17 Agustus lalu, Devi merasa penantiannya selama 40 tahun telah berakhir.
Advertisement
'Operasi Meghdoot'
Harbola ditugaskan di Siachen untuk 'Operasi Meghdoot'. Operasi ini diluncurkan angkatan darat India untuk menduduki glasier tersebut dan menutup akses bagi tentara Pakistan.
Saat itu Harbola baru 30 tahun. Dia anggota batalion 19 Kumaon, bagian dari salah satu resimen infrantri tertua India, yang dibentuk pada 1813. Unitnya ditempatkan di medan es glasier sepanjang 75 kilometer.
Siachen adalah salah satu dari lima glasier terbesar di Gugusan Karakoram - bagian dari Himalaya - di wilayah Kashmir yang membentang di perbatasan India, Pakistan, dan China.
Sebelum 1984, hanya pendaki yang melewati glasier tersebut. Tapi pada tahun itu, India merebut kontrol daerah perbatasan yang juga diklaim Pakistan.
Menurut mantan kolonel angkatan darat India yang menolak disebutkan namanya, banyak tentara yang dikerahkan di glasier ini mengalami radang dingin, kebutaan akibat salju, penyakit ketinggian, dan penyakit lainnya.
Kolonel ini mengatakan awalnya 130 anggota yang dikirim ke glasier ini. Peralatan yang semakin canggih juga dibawa. Tapi longsor salju, angin kencang, oksigen rendah, dan suhu beku yang bisa sampai -50 derajat Celcius saat musim dingin masih menjadi tantangan.
Devi terakhir bertemu Harbola pada Oktober 1983, delapan bulan sebelum bencana longsor itu menimbunnya. Harbola baru sebulan berada di Siachen ketika bencana terjadi.
Dua belas hari setelah longsor, Dewi sedang mengambil air di desanya ketika tukang pos tiba, mengantarkan telegram dan mengatakan suaminya hilang.
"Saya tertegun sejenak. Hari itu mengubah seluruh hidup saya," kenangnya.
"Tidak tahu apakah dia mati atau hidup, atau apa yang terjadi di wilayah sulit itu di mana pencarian dan perjalanan ke sana sulit, itu merugikan saya," jelasnya.
Ketika Harbola hilang, Devi merasa tak berdaya.
"Kami tidak bisa melakukan apapun," ujarnya.
Iparnya, yang juga seorang tentara, berangkat ke Siachen selama sebulan dan mencari Harbola bersama tentara lainnya.
Sejak 1984, diperkirakan 2.700 tentara India dan Pakistan meninggal di Siachen, sebagian besar karena longsor salju dan kesulitan yang disebabkan medan berat dan lingkungan yang berada di ketinggian.
Pada 2012, 140 orang, termasuk 129 tentara Pakistan dan 11 warga sipil tewas dalam badai salju. Ini merupakan korban terbanyak dalam satu insiden.