Wapres JK Ingatkan Menko Darmin dan Sri Mulyani Soal Krisis Ekonomi 10 Tahunan

Jumat, 9 Agustus 2019 12:47 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Wapres JK Ingatkan Menko Darmin dan Sri Mulyani Soal Krisis Ekonomi 10 Tahunan Wapres JK di HUT Kemenko Perekonomian. ©2019 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar tetap menjaga stabilitas ekonomi. Sebab, selama 10 tahun sekali suatu negara bisa mengalami krisis ekonomi.

Hal ini dikatakan JK saat membuka acara memperingati hari ulang tahun ke-53 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan hari ulang tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

"Kita juga perlu hati-hati Pak Menko sama Menteri Keuangan, kita tiap 10 tahun bisa terjadi krisis. Tahun 1998 kita tahu krisis Asia aliran Indonesia-Korea itu disebabkan karena tentu kita tahu semua fabel peligito. 10 tahun kemudian terjadi lagi 2008 krisis dimulai dari Amerika," kata JK di Jakarta, Jumat (9/8).

Di samping mentransformasi ekonomi, pemerintah juga harus hati-hati menghadapi siklus krisis 10 tahun sekali. Mengingat, Indonesia mengalami krisis pertamanya di tahun 1998, disusul krisis kedua 10 tahun kemudian di 2008.

Sementara di tahun ini, pemerintah juga harus waspada terhadap berbagai gejolak ekonomi eksternal, seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, yang berpeluang menciptakan krisis ekonomi.

"Jadi kita sudah semuanya tentu menteri keuangan, menko, BI juga harus hati-hati akibat-akibat perang dagang, akibat proteksionisme akibat brexit, akibat Timur Tengah, akibat apa yang bisa terjadi dalam ekonomi dunia ini," imbuhnya.

Meski begitu, dia yakin Indonesia memiliki keuntungan yang lebih baik. Mulai dari negara yang besar, memiliki konsumen yang besar walaupun Indonesia masih terus mengejar ketertinggalan dengan negara lain. Salah satunya dari sisi ekspor Indonesia yang masih kalan dibanding Singapura.

"Ekspor kita masih sekitar 20 persen daripada GDP. pada saat yang sama Singapura sudah 200 persen GDP-nya. Malaysia 150 persen dari GDP-nya. Kemudian juga Vietnam dan Thailand sudah jauh lebih tinggi daripada kita ekspor dari kita," lanjut JK.

Untuk itu, transformasi ekonomi kepada masyarakat dengan pendapatan tinggi sangat dibutuhkan untuk mengubah ekonomi. "Itulah transform itulah dibutuhkan untuk mengubah ekonomi ini," tandasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini