Virus Corona Buat Investor Panik, Hindari Risiko Dana Hilang

Jumat, 28 Februari 2020 20:41 Reporter : Anisyah Al Faqir
Virus Corona Buat Investor Panik, Hindari Risiko Dana Hilang Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. ©2020 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Perekonomian global terus bergejolak akibat wabah virus corona. Semula, dampak virus covid-19 ini dianggap pasar bakal teratasi dengan cepat selaiknya saat terjadi wabah SARS. Namun, meluasnya area penyebaran virus membuat pasar jadi panik. Banyak investor menarik investasi untuk menghindari resiko dana hilang.

"Uang enggak ada yang loyal. Uang hanya loyal terhadap return yang dia dapat," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (28/2).

Dampak virus corona memang sudah diprediksi oleh Bank Indonesia. Salah satunya terjadi penurunan ekonomi. Namun, saat ini kondisi Indonesia diklaim masih jauh lebih baik dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Para pemangku kebijakan telah berupaya merespons hal ini. Baik itu pemerintah dan regulator seperti Bank Indonesia dan OJK. Semua arahnya serentak dengan easing policy dan injeksi. Hanya memang semua dilakukan secara terukur.

"Jadi memang ada pelonggaran. Pemerintah keluarkan kebijakan fiskal berupa injeksi-injeksi," kata Destry.

Penyebaran virus corona berdampak langsung ke sektor investasi di Tanah Air. Sebab, China banyak terlibat dalam proyek hilirisasi komoditi Indonesia. Saat ini, investor sedang menahan diri karena terjadi risk off.

Kata Destri, China biasanya suka risiko dengan investasi ke pasar saham. Namun, kini mereka tak mau mengambil resiko. Sebaliknya, China menarik investasi untuk berpindah ke instrumen yang lebih aman. Misalnya, investasi dalam bentuk dolar Amerika, surat utang (bonds) atau emas.

"Saat terjadi risk off, enggak berani dia ngambil risiko jadi dia pergi ke instrumen yang dianggap aman," kata dia.

1 dari 1 halaman

Langkah Antisipasi Pemerintah

pemerintah rev1

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah dan regulator melakukan berbagai langkah konkret. Pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal yang dilakukan Kementerian Perekonomian dan Kementerian Keuangan.

Sedangkan Bank Indonesia melakukan gelombang kebijakan moneter. Termasuk operasi moneter dengan tripel intervention yakni spot, pembelian SBN dan DNDF.

Pada spot, ada beberapa aset yang dijual investor dibeli Bank Indonesia. Setelah baru investor masuk ke spot market. "Kita juga masuk ke bonds market dalam rangka untuk stabilitas karena hubungan bonds market dengan currency kita sangat dekat hubungannya," kata Destry menerangkan.

Dia melanjutkan, jika terjadi outflow atau aliran modal asing keluar pasti akan berdampak pada Rupiah. Sehingga, saat ini pihaknya berusaha menjaga agar nilai tukar Rupiah tetap stabil.

DNDF merupakan instrumen untuk hedging (strategi lindung nilai). Asing membeli aset di Indonesia pasti menggunakan Rupiah. Saat asetnya dijual, uang yang didapatkan berupa Rupiah dan harus ditukar ke dalam USD kembali nantinya.

"Suatu ketika nanti kan dia harus balik lagi ke dolarnya itu kan. Belajar dari pengalaman, biasanya mereka akan hedging dulu. Mau sebulan atau 3 bulan, tergantung," kata Destry.

Sebelum adanya DNDF, kondisi ini lebih parah lantaran investasi bisa diatur oleh investor asing. Tetapi ini masih banyak dimanfaatkan asing yang masih ingin mengamankan posisi. "Tapi kita juga enggak bisa nentuin BI mau di rate sekian. Kita berusaha smoothing sambil kemudian pemerintah dengan stimulus fiskalnya dan kami dengan easing policy kami, dan OJK dengan easing policynya. Kita bersama-sama melakukan concert action mendorong domestik ekonomi kita," papar dia. [idr]

Baca juga:
Untung Rugi Indonesia jadi Negara Maju
Langkah Bank Indonesia dan Pemerintah Cegah Dampak Virus Corona
BI Ramal Inflasi Februari 0,31 Persen, Disumbang Bawang Putih dan Cabai
Tiga Strategi Bank Indonesia Stabilkan Pasar Keuangan di Tengah Ancaman Virus Corona
Virus Corona Buat Modal Asing Kabur Rp30 T dari RI & Rupiah Melemah ke Rp14.290/USD

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini