Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tekan Emisi, Wamenkeu Ajak Grab Indonesia Gabung ke Ekosistem Kendaraan Listrik

Tekan Emisi, Wamenkeu Ajak Grab Indonesia Gabung ke Ekosistem Kendaraan Listrik

Tekan Emisi, Wamenkeu Ajak Grab Indonesia Gabung ke Ekosistem Kendaraan Listrik

Apalagi, lanjut Suahasil, PT PLN sudah mampu memproduksi energi listrik bersih. Yakni, produksi listrik yang tidak berasal dari batu bara melainkan sumber energi ramah lingkungan.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengajak Grab Indonesia untuk bergabung ke dalam ekosistem kendaraan listrik.

Ajakan ini sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060 mendatang.


"Saya ingin menyampaikan di penutup ini, Grab moga-moga juga ikut memikirkan bagaimana membuat kita lebih sustainable, masuk ke ruang ekonomi hijau, bukan dipikirkan sebagai tambahan biaya, tapi sebagai ruang bisnis baru," kata Suahasil dalam acara Grab Business Forum di Kempinski Hotel, Jakarta, Selasa (14/5).

Apalagi, lanjut Suahasil, PT PLN sudah mampu memproduksi energi listrik bersih. Yakni, produksi listrik yang tidak berasal dari batu bara melainkan sumber energi ramah lingkungan.


"Beberapa dunia usaha sudah minta kepada PLN sebagai penyedia listrik, saya mau listrik yang green dong, sekarang sudah bisa diberikan, bisa dibuat lebih maju," bebernya.

Suahasil menyebut, sektor transportasi sendiri merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia.

Tekan Emisi, Wamenkeu Ajak Grab Indonesia Gabung ke Ekosistem Kendaraan Listrik

Khususnya dari moda kendaraan yang menggunakan BBM berbasis fosil.

"Yang juga mengeluarkan emisi cukup besar di Indonesia sektor transportasi dan sektor transportasi karena pakai fosil BBM," bebernya.


Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi), berkomitmen untuk menekan emisi di Indonesia. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memproyeksikan total pembiayaan iklim yang dibutuhkan dalam E-NDC mencapai Rp 4.200 triliun.

"Tidak bisa ada komitmen tanpa ada sumber daya pendukungnya, dan berdasarkan estimasi yang berdasarkan total pembiayaan iklim yang dibutuhkan E-NDC mencapai Rp 4.200 triliun, mungkin kalau saya sebut dalam rupiah yaitu sekitar USD 281 miliar hingga 2030," kata Sri Mulyani.


Menurut Sri, sangatlah penting untuk bisa merancang suatu kerangka kebijakan dan peraturan yang tepat maupun iklim investasi yang yang cocok agar bisa lebih banyak lagi mengundang partisipasi investasi swasta maupun internasional.

"Jadi, di sini juga kita akan mengundang banyak filantropi untuk berpartisipasi dalam hal ini," ujarnya


Saat ini, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan beberapa insentif fiskal maupun melakukan inovasi pembiayaan untuk bisa mewujudkan net zero emission, dan menciptakan dana yang dibutuhkan untuk investasi di proyek-proyek hijau atau ramah lingkungan, diantaranya insentif ini termasuk dalam penggunaan tax holiday, tax allowance, fasilitasi PPN dan bea impor.

"Jadi, kami juga menciptakan berbagai instrumen yang termasuk penerbitan sukuk hijau dan juga obligasi hijau di tingkat domestik maupun internasional, dan kami harapkan bahwa obligasi hijau maupun SDGs Kami akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan ini perlu didukung dengan kerangka peraturan yang konsisten," pungkasnya.

PLTU Ini Ganti Bahan Bakar Batu Bara dengan Sampah dan Limbah Uang Kertas, Emisi CO2 Langsung Turun 555.000 Ton
PLTU Ini Ganti Bahan Bakar Batu Bara dengan Sampah dan Limbah Uang Kertas, Emisi CO2 Langsung Turun 555.000 Ton

Masyarakat bisa berperan dalam menyediakan bahan baku biomassa, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan.

Baca Selengkapnya
PLTGU Jawa-1 Terbesar di Asia Tenggara Siap Beroperasi Penuh, Tekan Emisi Karbon 3,3 Juta Ton Per Tahun
PLTGU Jawa-1 Terbesar di Asia Tenggara Siap Beroperasi Penuh, Tekan Emisi Karbon 3,3 Juta Ton Per Tahun

Indonesia akan resmi memiliki pembangkit integrated terbesar di Asia Tenggara.

Baca Selengkapnya
Awal Tahun, Bea Cukai Bantu Ekspor Sarung Tangan Asli Kalasan ke Jepang, Nilainya Rp1,1 Miliar
Awal Tahun, Bea Cukai Bantu Ekspor Sarung Tangan Asli Kalasan ke Jepang, Nilainya Rp1,1 Miliar

Perusahaan tersebut mengekspor sarung tangan sebanyak 339 karton

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Kejar Bauran EBT, PLTU di Jawa Tengah Campur Bahan Bakar Batu Bara dengan Biomassa
Kejar Bauran EBT, PLTU di Jawa Tengah Campur Bahan Bakar Batu Bara dengan Biomassa

PLTU Adipala terus berinovasi menjadi PLTU, yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakarnya.

Baca Selengkapnya
Terungkap, Ternyata Ini yang Bikin Indonesia Pernah Swasembada Beras di Era Soeharto
Terungkap, Ternyata Ini yang Bikin Indonesia Pernah Swasembada Beras di Era Soeharto

Puncak impor beras terbesar Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 3 juta ton.

Baca Selengkapnya
Mulai Ramadan 2024, Garuda Indonesia Gunakan Kemasan Ramah Lingkungan dalam Layanan Penerbangan
Mulai Ramadan 2024, Garuda Indonesia Gunakan Kemasan Ramah Lingkungan dalam Layanan Penerbangan

Dengan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai melalui penggunaan kemasan ramah lingkungan ini, diharapkan dapat menurunkan emisi karbon.

Baca Selengkapnya
Kehabisan Bensin di Tengah Kemacetan Tol Pelabuhan Merak? Begini Solusinya
Kehabisan Bensin di Tengah Kemacetan Tol Pelabuhan Merak? Begini Solusinya

Upaya itu dilakukan untuk memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) aman mengantisipasi kemacetan di Tol Jakarta-Merak.

Baca Selengkapnya
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Generasi Muda Capai Indonesia Emas 2045
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Generasi Muda Capai Indonesia Emas 2045

Pemerintah perlu mengajak seluruh elemen untuk berkontribusi dalam adaptasi perubahan iklim.

Baca Selengkapnya
Menkop Teten: Industri Otomotif Sumbang Rp311 Triliun ke Ekonomi Indonesia
Menkop Teten: Industri Otomotif Sumbang Rp311 Triliun ke Ekonomi Indonesia

Melihat hal itu, tren industri Electric Vehicle (EV) atau mobil listrik, kata Teten juga memberi peluang bagi usaha kecil dan menengah.

Baca Selengkapnya