Survei: Persepsi ketimpangan ekonomi di mata masyarakat meningkat di 2017
Merdeka.com - Survei International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) mencatat bahwa persepsi masyarakat terhadap ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin tinggi. Hasil survei tahun 2017 menunjukkan, persepsi masyarakat terhadap ketimpangan berada di angka 5,6 alias tinggi dari hasil survei serupa pada tahun lalu yang berada di angka 4,5.
Diketahui, INFID melakukan survei tersebut sejak September hingga November 2017. Survei dilaksanakan dengan metode multistage random sampling di 34 provinsi dengan 2.250 partisipan.
"Survei ketimpangan sosial ini menurut persepsi warga untuk mengukur sejauh mana ketimpangan terjadi di ranah hidup dan memang pasti subjektif," ungkap Peneliti Utama INFID, Bagus Takwin, di Jakarta, Kamis (8/2).
Dia menyebut, ada sepuluh indikator yang dijadikan INFID sebagai sumber ketimpangan, yaitu penghasilan, pekerjaan, tempat tinggal, harta benda, kesejahteraan keluarga, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, keterlibatan politik, hukum, dan kesehatan.
"Indeks ketimpangan sosial ini mengindikasikan berapa banyak ranah dari 10 ranah yang dinilai timpang oleh seluruh responden. Artinya dengan skor 5,6 masyarakat menilai setidaknya ada lima hingga enam sumber ketimpangan," sambungnya.
Dia menambahkan, secara keseluruhan 84 persen partisipan mempersepsikan adanya ketimpangan setidaknya pada satu ranah. Atau delapan dari sepuluh masyarakat mempersepsikan adanya ketimpangan.
Dari sepuluh sumber ketimpangan yang jadi indikator, penghasilan miliki nilai tertinggi. Sebanyak 71,1 persen partisipan menilai penghasilan yang dia terima mengalami ketimpangan.
Sementara selanjutnya adalah pekerjaan sebesar 62,6 persen, tempat tinggal 61,2 persen, harta benda 59,4 persen, kesejahteraan keluarga 56,6 persen, pendidikan 54 persen, lingkungan tempat tinggal 52 persen, keterlibatan politik 48 persen, hukum 45 persen, dan kesehatan 42,3 persen.
Dalam laporan lengkapnya, selain paling besar memengaruhi persepsi ketimpangan, indikator penghasilan berdampak pada ketimpangan pada kepemilikan rumah dan harta benda, pendidikan dan kesehatan.
"Yang paling berpengaruh adalah penghasilan. Ketimpangan dilihat dari seberapa besar masyarakat menggunakan uang dalam belanja, menabung. Nah berapa kemudian yang bisa ia belanjakan untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau kurang mereka anggap ada ketinggian," tandas Bagus.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya