Selisih Harga BBM & Elpiji Subsidi Belum Diterima, Laba Pertamina Hanya USD 753 Juta

Kamis, 7 November 2019 15:00 Reporter : Merdeka
Selisih Harga BBM & Elpiji Subsidi Belum Diterima, Laba Pertamina Hanya USD 753 Juta Pertamina. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba USD 753 juta di kuartal III-2019. Meski demikian, Pertamina berharap pemerintah segera membayar kompensasi penyaluran Bahan Bakar Minyak(BBM) dan elpiji bersubsidi untuk mendongkrak laba tersebut.

Direktur Keuangan Pertamina, Pahala Mansyuri mengatakan, pencapaian laba tersebut lebih tinggi jika dibandingkan laba bersih pada semester pertama 2019 sebesar USD 660 juta.

‎"Kuartal III laba kita kurang lebih USD 753 juta," kata Pahala di Jakarta, Kamis (7/11).

Menurut Pahala, capaian laba tersebut bisa lebih tinggi, jika pemerintah membayar kompensasi penyaluran ‎BBM dan elpiji bersubsidi atas selisih harga jual yang di bawah harga beli sebesar USD 1 miliar. Dengan begitu potensi pendapatan Pertamina bisa bertambah menjadi USD 1,7 miliar.

"Jadi kurang lebih ya kita dikisaran USD 1,7 miliar kalau termasuk potensi pendapatan dari kompensasi," tuturnya.

Namun pembayaran kompensasi penyaluran ‎BBM dan elpiji bersubsidi atas selisih harga jual yang di bawah harga beli harus menunggu audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Keputusan Menteri Keuangan.

‎"Tapi kan biasanya memang kompensasi harus menunggu adanya audit BPK dan keputusan Menteri Keuangan. Kalau tidak termasuk itu kurang lebih US$ 753 juta," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Pertamina Ingin Kuasai Saham TPPI

PT Pertamina (Persero) mengincar saham PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) agar menjadi pemilik mayoritas. Sementara pemerintah sedang merencanakan operator fasilitas petrokimia tersebut untuk dijadikan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Corporate Secretary Pertamina, Tajudin Noor mengatakan, Pertamina melihat TPPI memiliki prospek yang baik, sebab saat ini industri dalam negeri masih impor untuk memenuhi produk petrokimianya. Sehingga perlu sentuhan lebih baik untuk dioptimalkan. Sebab itu, perusahaan energi plat merah tersebut ingin menjadi pemilik saham mayoritas agar bisa berperan lebih besar dalam pengembangan fasilitas petrokimia tersebut.

"karena memang yang punya kompetensi Pertamina di indonesia kita tahu petrokimia masih banyak sekali kita impor," kata Tajudin, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (6/11).

Saat ini Pertamina memiliki saham 48 persen di TPPI, dia menyebut ada beberapa pilihan untuk menambah kepemilikan saham pada anak usaha PT Tuban Petrochemical Industries (TPI) atau Tuban Petro tersebut. Adapun skenario adalah mengakuisisi saham TPI di TPPI atau pemilik saham lain di TPPI.

"Beberapa skenario ini kan masih dalam pembahasan departemen keuangan selaku pemegang saham, sama BUMN juga," tuturnya.

Tajudin mengungkapkan, Pertamina sudah menyiapkan dana untuk menambah kepemilikan saham di TPPI, namun tidak menyebutkan jumlahnya. Dia berharap, pemerintah memutuskan skema akuisisi pada akhir 2019.

"Mudah-mudahan sudah ketemu skema terbaiknya karena ini kan bicara pemerintah dan Pertamina juga," tandasnya.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com [idr]

Baca juga:
Pertamina Ingin Kuasai Saham TPPI
Deretan Keuntungan Pembangunan Kilang, Termasuk Buka 172.000 Lapangan Kerja
Pertamina Kebut Pembangunan Kilang, Begini Caranya
Pertamina Belum Selesaikan Negosiasi Harga Lahan untuk Kilang Cilacap
Kilang Pertamina Tak Lagi Produksi Euro 2 Mulai 2026

Topik berita Terkait:
  1. Pertamina
  2. Migas
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini