Sejak 2011, Jumlah Masyarakat Indonesia Liburan ke Luar Negeri Terus Meningkat
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap bisa mengerem laju wisatawan nusantara yang pelesiran ke luar negeri. Ini perlu dilakukan agar tidak terlalu banyak devisa yang terbuang masuk ke negara lain.
Berdasarkan laporan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebutkan bahwa sedikitnya 11 juta orang masyarakat Indonesia melancong berlibur ke luar negeri.
"Kalau kita rem separuh saja, devisanya akan sangat besar sekali yang tidak terbuang masuk ke negara lain," kata Jokowi saat meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lido di Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/3).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri sejak tahun 2011 terus mengalami tren peningkatan. Di tahun 2011 tercatat ada 6,95 juta orang pergi keluar negeri.
Tahun 2012 naik menjadi 7,65 juta, 2013 sebanyak 8,24 juta, 2014 sebanyak 8,23 juta, 2015 sebanyak 8,33 juta dan di tahun 2016 naik lagi menjadi 8,49 juta. Peningkatan orang bepergian keluar negeri semakin meningkat di tahun 2017 sebanyak 9,06 juta. Kemudian di tahun 2018 sebanyak 10,88 juta dan puncaknya di tahun 2019 sebanyak 11,69 juta.
"Jumlah perjalanan mencapai puncaknya di tahun 2019 dengan 11,69 juta perjalanan," dikutip dari Publikasi Statistik Wisatawan Nusantara 2020 yang diterbitkan BPS, Jakarta, Senin (1/4).
Peningkatan tersebut tidak terlepas dari gencarnya promosi negara-negara tujuan wisata, utamanya dari negara-negara tetangga (ASEAN). BPS menilai, peningkatan tersebut seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memicu mereka bepergian ke luar negeri.
Sebagian besar penduduk Indonesia mengandalkan transportasi udara dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Hal ini dipicu oleh maraknya maskapai bertarif murah dan semakin beragamnya rute yang ditawarkan.
Di tahun 2019, lebih dari setengah perjalanan ke luar negeri menggunakan transportasi udara (66,33 persen), disusul oleh transportasi laut sebesar 23,23 persen. Di sisi lain, perjalanan ke luar negeri dengan transportasi darat meningkat cukup signifikan. Dari 10,44 persen di tahun 2019 menjadi 36,06 persen di tahun 2020.
Umumnya, penggunaan transportasi darat untuk perjalanan ke luar negeri dilakukan oleh penduduk Indonesia yang berbatasan darat dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini, dan wilayahnya dekat dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
Perjalanan keluar negeri paling banyak terjadi saat musim liburan sekolah, yakni pada pertengahan tahun di bulan Juni atau akhir tahun pada Desember. Sementara itu, perjalanan keluar negeri terendah pada bulan Februari.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya