Rupiah dan IHSG Ditutup Menguat Meski Ada Aksi Massa Tolak UU Cipta Kerja

Selasa, 6 Oktober 2020 17:06 Reporter : Sulaeman, Anisyah Al Faqir
Rupiah dan IHSG Ditutup Menguat Meski Ada Aksi Massa Tolak UU Cipta Kerja Aksi Mogok Kerja Buruh di Cikarang. ©2020 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mencatat, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 65 poin di level Rp 14.735 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.800 per USD.

"Dengan penolakan dari kaum buruh mata uang garuda terkikis penguatannya dari awal perdagangan menguat di 177 point berubah drastis di penutupan pasar menjadi 65 point, ini akibat data internal yang kurang mendukung terhadap penguatan rupiah," kata Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa (6/10).

Ibrahim melanjutkan dalam perdagangan besok pagi mata uang rupiah kemungkinan akan terjadi fluktuatif. Namun kemungkinan ditutup menguat sebesar 20-70 point di level 14.700-14.750. Sementara itu, IHSG ditutup menguat 0,82 persen ke level 4.999,22. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 7,1 triliun. Net sell asing Rp 263,41 miliar

Ibrahim menilai aksi unjuk rasa tersebut dinilai sebagai bentuk kekecewaan kaum buruh. Aksi itu merupakan wujud dari rasa dihina dan dipinggirkan oleh pemerintah dan legislatif karena dianggap merugikan kaum buruh.

"Suara lantang menggema akibat UU Baru itu mengubah sejumlah aturan bagi buruh Indonesia. Beberapa perubahan tersebut sangat merugikan kaum buruh sehingga sangat wajar kalau Serikat pekerja dan buruh kembali berteriak lantang," tutur Ibrahim.

Sebelumnyam UU Cipta Kerja sempat terbengkalai berbulan-bulan. Namun disaat pandemi Covid-19 menyebar di awal tahun 2020, banyak perusahaan-perusahaan mengalami permasalahan keuangan dan gulung tikar.

Pemerintah dan DPR kembali membuka ruang untuk pembahasan RUU Cipta Kerja. Dia memperkirakan draf RUU Cipta Kerja kembali dibuka setelah ekonomi global tertekan dan ancaman resesi terjadi di Indonesia.

"Mungkin ini dilakukan karena ekonomi global melambat akibat resesi dan Indonesia kena dampaknya sehingga Baleg DPR begitu semangat mengesahkan RUU tersebut," kata dia.

Baca Selanjutnya: Dinilai Bertentangan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini