Pertalite Diburu Masyarakat, Pemerintah Kaji Tambahan Kuota hingga Akhir Bulan Ini

Lonjakan konsumsi membuat kuota Pertalite dihitung ulang. Evaluasi berjalan hingga akhir Oktober 2026, sementara opsi penambahan masih dikaji.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon- Reporter
Pertalite Diburu Masyarakat, Pemerintah Kaji Tambahan Kuota hingga Akhir Bulan Ini
<p>Antrean kendaraan warga mengisi BBM Pertalite sebelum pemberlakuan harga resmi jam 14.30 kenaikan BBM pada salah satu SPBU di kawasan Cinere, Depok, Sabtu (3/9/20222). Hari ini pemerintah secara resmi menaikkan BBM Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter, harga solar menjadi Rp 6.800 per liter dan Pertamax menjadi Rp 14.500 per liter. (merdeka.com/Arie Basuki)</p>

Pemerintah masih menghitung kebutuhan tambahan kuota Pertalite menyusul lonjakan konsumsi akibat peralihan masyarakat dari BBM non-subsidi. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyebut evaluasi berjalan hingga akhir Oktober 2026.

Pada Sabtu (24/10/2026), Yuliot mengatakan, "Jadi, lagi dilakukan evaluasi sampai dengan akhir bulan ini."

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, belum bisa memastikan apakah tambahan kuota akan mencapai 10 persen dari total alokasi 2026 yang sebesar 29,27 juta kiloliter (KL). "Masih dihitung ya, sekarang yang kita proses untuk tambahan yang solar dulu ya," ujar Laode Sulaeman.

Sebelumnya, pemerintah berencana menambah alokasi BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk merespons migrasi massal pengguna BBM non-subsidi akibat gejolak geopolitik global. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan penyesuaian kuota menjadi langkah penting demi memastikan pasokan.

"Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Peralihan ke Pertalite Picu Lonjakan

Bahlil menerangkan, lonjakan konsumsi Pertalite dipicu perpindahan konsumen dari BBM RON 92 seperti Pertamax. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz berdampak pada kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Imbasnya, masyarakat beralih ke Pertalite. Kondisi ini menuntut pemerintah menghitung ulang anggaran dan kuota penyaluran. Menurut Bahlil, evaluasi menyeluruh mengenai kebutuhan tambahan akan difinalisasi pada akhir Oktober.

"Untuk Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise di akhir bulan ini, ya. Memang ada terjadi peningkatan," ucap Bahlil.

Catatan BPH Migas Soal Laju Penyaluran

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat lonjakan konsumsi Pertalite mulai terlihat signifikan sejak pertengahan tahun. Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut rata-rata distribusi harian semula berada di 75.795 KL per hari.

Setelah harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, permintaan Pertalite melonjak tajam:

  • 10 Juni 2026: Penyaluran Pertalite menyentuh 82.760 KL per hari—naik 9,19 persen atau bertambah 6.965 KL per hari dibandingkan rata-rata awal.
  • Juli 2026: Konsumsi kembali melonjak hingga 85.589 KL per hari, mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 12,92 persen (bertambah 9.794 KL per hari).
  • Agustus 2026: Konsumsi melandai tipis menjadi 84.368 KL per hari, namun angka ini masih jauh di atas rata-rata penyaluran sebelum penyesuaian harga Pertamax.

Perkembangan tersebut menjadi dasar pemerintah memastikan ketersediaan anggaran serta penambahan kuota Pertalite tetap aman hingga akhir tahun.

Rekomendasi