Kebiasaan memesan makanan melalui aplikasi pesan antar menjadi bagian dari gaya hidup Generasi Z di Amerika Serikat. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan dilema finansial. Di satu sisi, konsumen bisa menikmati makanan tanpa perlu memasak. Di sisi lain, biaya tambahan membuat pengeluaran membengkak dan memicu rasa bersalah.
Mengutip dari The Guardian, sebagian anak muda mulai merasa tidak nyaman dengan kebiasaan memesan makanan melalui aplikasi seperti DoorDash, Uber Eats, dan Grubhub.
Survei perusahaan pemasaran FinanceBuzz yang bekerja sama dengan Bank of America menemukan, 57 persen warga Amerika Serikat memesan makanan untuk dibawa pulang atau menggunakan layanan pesan antar setidaknya sekali dalam seminggu.
Gen Z tercatat lebih sering menggunakan layanan tersebut, dengan rata-rata lima pesanan per bulan. Jumlah ini sekitar dua kali lipat dibandingkan generasi Baby Boomer.
Namun, frekuensi pemesanan yang tinggi turut menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pribadi. Dalam survei yang sama, separuh responden Gen Z mengaku malu dengan jumlah uang yang mereka habiskan untuk layanan pesan antar. Sebagian bahkan berbohong kepada teman dan keluarga mengenai pengeluaran tersebut.
Caroline Bauldree, seorang pengasuh anak berusia 24 tahun yang tinggal di Raleigh, Carolina Utara, Amerika Serikat, mengaku terbiasa memesan makanan hampir setiap hari sejak kuliah. Ia memperkirakan menghabiskan sekitar USD 75 per minggu untuk layanan pesan antar.
"Kalau saya ingin sushi, ya saya akan membeli sushi," kata Bauldree.
Namun, kebiasaan tersebut terkadang membuatnya merasa bersalah setelah melakukan pemesanan. Ia menyadari kemudahan yang ditawarkan aplikasi bisa membuatnya terus mengeluarkan uang tanpa banyak pertimbangan.
Advertisement
Biaya Tambahan Bikin Pengeluaran Membengkak
Asisten Profesor Pemasaran Carnegie Mellon University, Joy Lu, menyebut layanan pesan antar sebagai affordable luxury atau kemewahan yang relatif terjangkau. Layanan ini memungkinkan konsumen memanjakan diri tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus.
Meski demikian, biaya pengiriman dan berbagai pajak lain dapat membuat total pembayaran jauh lebih tinggi daripada harga makanan yang tercantum.
Joy Lu menilai, sebagian konsumen enggan membicarakan pengeluaran tersebut karena tidak ingin dianggap membuang-buang uang.
"Rasanya tidak nyaman mengakui bahwa kita membayar uang tambahan dan turut berkontribusi terhadap keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut," kata Joy Lu kepada The Guardian.
Ia juga memperkirakan, sebagian pengguna tidak menyadari besarnya pengeluaran mereka karena transaksi dilakukan sedikit demi sedikit.
"Sangat mudah mengeluarkan uang sedikit demi sedikit," ujarnya.
Persoalan ini semakin relevan ketika biaya kebutuhan sehari-hari terus meningkat. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan harga bahan pangan untuk konsumsi di rumah naik 2,4 persen pada 2026.
Kenaikan tersebut membuat sebagian konsumen merasa biaya memasak sendiri semakin mahal. Meski begitu, perbandingan antara memasak dan membeli makanan jadi bergantung pada kondisi masing-masing, termasuk jumlah anggota keluarga dan akses terhadap toko bahan pangan.
Advertisement
Kebiasaan Pesan Makanan Dikaitkan dengan Sulitnya Beli Rumah
Di tengah tekanan biaya hidup, kebiasaan memesan makanan online juga menjadi sasaran kritik. Sebagian pihak menilai pengeluaran untuk layanan pesan antar dapat menghambat generasi muda mencapai finansial yang stabil, seperti membeli rumah.
Fenomena ini mengingatkan pada kritik terhadap generasi milenial sekitar satu dekade lalu, ketika kebiasaan membeli kopi dan roti panggang kerap dianggap sebagai penyebab mereka sulit memiliki rumah.
Namun, ekonom Mike Konczal menilai anggapan tersebut perlu dilihat secara lebih kritis.
Mengutip data 2024 dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (Bureau of Labor Statistics), Konczal menyebut porsi anggaran makanan masyarakat Amerika masih lebih besar untuk membeli bahan pangan dibandingkan untuk makan di luar dan layanan pesan antar.
"Secara keseluruhan, masyarakat sedang mengalihkan pengeluaran makanan ke aktivitas memasak di rumah, bukan menjauhinya," tulis Konczal melalui platform Substack pada Februari.
Bauldree sendiri mulai berusaha mengurangi kebiasaan memesan makanan karena biaya kebutuhan lain, seperti sewa tempat tinggal dan asuransi mobil, ikut meningkat.
"Ekonomi ini bukan untuk orang yang lemah," katanya.
Sementara itu, Joy Lu memilih tidak memasang aplikasi pesan antar makanan di ponselnya agar tidak tergoda melakukan pemesanan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemudahan layanan digital tidak selalu sejalan dengan kenyamanan finansial. Ketika transaksi terasa ringan karena dilakukan lewat ponsel, akumulasi pengeluaran justru berpotensi luput dari perhatian
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448425/original/091113200_1620189639-000_99A48H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378850/original/032740800_1792565766-IMG_2968.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9379712/original/035199900_1792644539-IMG_9686.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5369189/original/096798300_1759457863-kaya_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380358/original/013427100_1792674209-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_07.43.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474423/original/065994600_1768476612-Ketua_Umum_Kadin_Indonesia__Anindya_Novyan_Bakrie-15_Januari_2026-a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380179/original/007497000_1792660565-WhatsApp_Image_2026-10-22_at_15.48.46.jpeg)