Berapa Persen Gaji Harus Ditabung? Ini Trik Atur Uangnya

Merasa gaji selalu numpang lewat? Kenali aturan ideal pembagian gaji bulanan, urutan prioritas menabung, hingga trik mengatur keuangan saat anggaran sedang pas-pasan.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi- Reporter
Berapa Persen Gaji Harus Ditabung? Ini Trik Atur Uangnya
Membagi penghasilan berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan bisa menjadi cara untuk mengatur gaji bulanan. (Foto/Dok: Pexels)

Menunggu tanggal gajian memang menyenangkan, tapi melihat saldo rekening menyusut hanya beberapa hari setelahnya kerap membuat pusing. Sebagian besar orang sadar bahwa menyisihkan uang untuk masa depan itu penting. Pertanyaannya, berapa persen sebenarnya dari gaji bulanan yang idealnya masuk ke pos tabungan?

Sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, angka yang disarankan adalah 20 persen dari gaji bersih (take-home pay). Angka ini bukan patokan asal-asalan, melainkan bagian dari metode penganggaran populer yang dikenal sebagai formula 50/30/20.

Memahami Formula 50/30/20

Pembagian penghasilan bulanan setelah dipotong pajak idealnya dibagi menjadi tiga pos utama dengan formula 50/30/20, dengan rincian sebagai berikut:

  • 50 Persen untuk Kebutuhan Pokok (Needs): Biaya sewa atau cicilan rumah, tagihan listrik, air, transportasi kerja, belanja makan sehari-hari, hingga pembayaran minimum tagihan yang bersifat wajib.
  • 30 Persen untuk Keinginan (Wants): Makan di luar bersama teman, langganan aplikasi streaming, hobi, hingga belanja pakaian.
  • 20 Persen untuk Masa Depan (Savings & Debt): Porsi ini tidak semata-mata mengendap di rekening bank biasa. Alokasi 20 persen mencakup dana darurat, investasi hari tua (seperti reksa dana atau dana pensiun), serta pembayaran ekstra untuk mempercepat lunasnya utang.

Membayar utang berbunga tinggi di luar cicilan minimum masuk ke dalam kategori 20 persen ini karena memangkas beban bunga di masa mendatang, sehingga makin banyak dana yang bisa ditabung nantinya.

Susun Skala Prioritas, Jangan Semuanya Digas Sekaligus

Memiliki banyak impian finansial sekaligus tanpa urutan yang jelas justru kerap memicu stres dan membuat arus kas berantakan. Oleh karena itu, penting untuk membangun pondasi keuangan secara bertahap dengan mendahulukan pembentukan bantalan dana darurat awal.

Sebelum terburu-buru berinvestasi dalam jumlah besar, amankan dana cadangan kecil terlebih dahulu hingga nantinya terkumpul setara 3 sampai 6 bulan total pengeluaran wajib, demi mencegah Anda terjerat utang baru saat terjadi situasi mendesak seperti musibah sakit atau kerusakan kendaraan.

Bersamaan dengan itu, manfaatkan fasilitas tempat kerja secara maksimal jika kantor menyediakan program iuran pensiun bersama dengan subsidi perusahaan, sebab melewatkannya sama saja dengan membuang hak atas dana cuma-cuma.

Langkah krusial berikutnya adalah mencurahkan fokus untuk melunasi utang berbunga tinggi, seperti tagihan kartu kredit atau pinjaman dengan bunga mencekik, agar arus kas bulanan tidak terus-menerus bocor tergerus beban bunga. Baru setelah ketiga pos mendasar ini berada dalam kondisi aman dan stabil, seseorang bisa dengan leluasa mengarahkan porsi tabungan untuk mengejar berbagai target finansial jangka panjang, mulai dari mengumpulkan uang muka pembelian rumah, mencicil kendaraan impian, hingga merencanakan liburan idaman tanpa rasa waswas.

Gaji Mepet dan Nggak Sanggup Sisihkan 20 Persen?

Bagi sebagian orang, menyisihkan seperlima dari penghasilan mungkin terasa berat di tengah tingginya biaya hidup. Kuncinya adalah di fleksibilitas, jadi jangan menunggu punya sisa 20 persen baru mulai menabung.

Mulailah dari angka 5 hingga 10 persen dari gaji bersih. Konsistensi jauh lebih berpengaruh dibanding menunggu nominal yang besar. Selain itu, ada beberapa siasat praktis yang bisa diterapkan:

  • Otomatiskan Tabungan: Pasang fitur autodebet ke rekening khusus tepat pada tanggal gajian. Sisihkan uang di awal, bukan menyisakan sisa belanja di akhir bulan.
  • Manfaatkan Rekening Imbal Hasil Tinggi: Simpan dana tabungan di produk perbankan atau instrumen likuid dengan bagi hasil/bunga kompetitif (seperti tabungan digital atau reksa dana pasar uang) agar nilainya tidak tergerus biaya administrasi.
  • Cari Tambahan Pemasukan: Ketika pos pengeluaran sudah ditekan sampai titik terendah namun saldo tetap pas-pasan, satu-satunya solusi adalah meluangkan waktu untuk mencari peluang kerja sampingan (side gig) atau memanfaatkan aset yang menganggur.
Rekomendasi