El Nino Diprediksi Hingga 2027, BI Waspadai Lonjakan Harga Bahan Pangan

El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027 dan membuat inflasi pangan di Indonesia Timur tembus hingga 8,6 persen. Begini jurus BI redam lonjakan harga pangan di daerah.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi- Reporter
El Nino Diprediksi Hingga 2027, BI Waspadai Lonjakan Harga Bahan Pangan
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Bank Indonesia (BI) memperingatkan akan fenomena El Nino yang diperkirakan bakal berlangsung lebih panjang hingga awal 2027 mendatang. El Nino sendiri sampai sekarang masih menjadi hantu bagi stabilitas harga bahan pangan di Indonesia karena cuaca ekstremnya.

Kondisi ini diketahui langsung memicu lonjakan inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) nasional yang merangkak naik ke level 5,03 persen pada September 2026.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali mengungkapkan, meski inflasi umum secara nasional masih terkendali di angka 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), tekanan harga pangan di tingkat daerah akibat gangguan cuaca sudah mulai terasa nyata.

"El Nino ini berpengaruh karena berkepanjangan dan diperkirakan akan lebih dari tahun 2026, sampai awal 2027. Berdasarkan perhitungan kami di daerah, El Nino berdampak paling besar pada inflasi volatile food, terutama di Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua), Balinusra (Bali-Nusa Tenggara), dan Sumatera, dengan komoditas paling rentan adalah beras, cabai, dan bawang merah," papar Ricky dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, dikutip Kamis (22/10).

Inflasi Pangan di Indonesia Timur Meroket Tembus 8,6 Persen

Secara kewilayahan, pukulan cuaca terhadap harga pangan paling parah dialami masyarakat di kawasan Indonesia bagian timur dan Kalimantan.

Ricky merinci, inflasi kelompok pangan di wilayah Sulampua melonjak tajam hingga menyentuh level 8,63 persen. Kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, tomat, bawang merah, beras, serta komoditas tangkapan laut seperti ikan cakalang dan tongkol.

Sementara itu, wilayah Kalimantan membuntuti dengan inflasi pangan mencapai 7,62 persen. Bahan pokok penyumbang utamanya meliputi beras, cabai rawit, cabai merah, telur ayam ras, hingga pasokan aneka ikan.

Siapkan Jurus Pasar Murah hingga Dashboard Rantai Pasok Digital

Menghadapi ancaman paceklik dan tersendatnya distribusi, Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah daerah langsung bergerak cepat menyiapkan benteng pertahanan.

Untuk solusi jangka pendek, BI mengandalkan program Kerjasama Antar Daerah (KAD), operasi pasar, hingga gerakan pasar murah guna mempercepat pengiriman komoditas dari daerah surplus ke daerah yang mengalami defisit pasokan.

"Khusus untuk KAD, saat ini Bank Indonesia mengembangkan dashboard rantai pasok yang berkolaborasi bersama Neraca Pangan Bapanas. Di mana pemerintah dapat memantau daerah mana yang surplus dan defisit untuk setiap komoditasnya, berapa stok yang tersedia, biaya distribusinya, hingga jalur distribusi yang paling efisien," jelas Ricky.

Adapun untuk jangka panjang, BI mendorong penguatan sektor hulu melalui praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices), pembenahan sistem irigasi, serta penyediaan bibit unggul yang lebih tahan banting terhadap perubahan iklim ekstrem.

Lewat 46 kantor perwakilan di seluruh penjuru negeri yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI berkomitmen terus menjaga pasokan agar piring nasi masyarakat tidak terbebani lonjakan harga.

Rekomendasi