Gelombang iklim ekstrem dan kemarau panjang imbas El Nino menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sektor hortikultura nasional. Selain memicu krisis air, suhu panas menyengat mendorong ledakan populasi hama vektor seperti kutu daun (aphids), thrips, dan kutu kebul (Bemisia tabaci).
Kondisi ini mempercepat penyebaran infeksi Geminivirus serta penyakit layu bakteri di berbagai sentra produksi cabai nasional. Dampaknya tak main-main, daya tahan tanaman yang melemah akibat stres kekeringan membuat hasil panen anjlok hingga lebih dari 50 persen, bahkan berujung gagal panen total.
Menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian tak menentu, penerapan teknologi pemuliaan tanaman (plant breeding) menjadi benteng pertahanan utama. Penggunaan varietas unggul tahan penyakit terbukti ampuh menekan risiko kerugian petani tanpa bergantung penuh pada pestisida kimia.
Menjawab tantangan tersebut, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menghadirkan Laba TAVI F1, benih cabai keriting hibrida yang dirancang khusus adaptif di musim kering. Varietas ini dibekali ketahanan genetik terhadap tiga penyakit utama pembunuh tanaman cabai: layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang atau akar (Phytophthora capsici), serta infeksi virus kompleks (TAVI).
Meski ditanam di bawah tekanan suhu tinggi dan keterbatasan air, Laba TAVI F1 tetap mampu tumbuh optimal. Cabai ini memiliki potensi hasil panen mencapai 18 hingga 23 ton per hektar dengan bobot rata-rata 8 gram per buah, memberikan efisiensi tinggi bagi usaha tani.
General Manager Commercial Ewindo, Budi Hariyono, menegaskan bahwa pengembangan varietas ini ditujukan untuk menjaga produktivitas serta kesejahteraan petani kecil.
"Varietas Laba TAVI F1 merupakan hasil riset mendalam yang kami dedikasikan sebagai solusi nyata bagi petani menghadapi kemarau panjang. Melalui inovasi benih unggul yang tahan penyakit dan adaptif di cuaca kering, kami ingin memastikan produktivitas tetap terjaga sekaligus membantu petani menghemat biaya operasional," ujar Budi.
Advertisement
Edukasi dan Bukti Nyata di Lapangan
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375292/original/027717700_1792138040-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_16.57.03.jpeg)
Guna memastikan manfaat teknologi benih ini tersalurkan secara optimal, Ewindo masif menggelar edukasi tata kelola budidaya, efisiensi irigasi, hingga manajemen pola tanam. Salah satu kegiatan edukasi digelar di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, yang dihadiri sekitar 230 petani dari Simalungun, Batubara, dan Deli Serdang.
Pengalaman positif dirasakan oleh Agus, salah satu petani cabai yang telah membuktikan keunggulan benih ini di lapangan.
"Laba TAVI F1 memiliki performa tanaman yang sangat baik. Memilih varietas yang tahan penyakit menjadi pertimbangan paling penting saat cuaca tidak menentu. Harapannya, dengan varietas yang tepat dan perawatan baik, kami bisa menjaga produktivitas dan mendapat hasil panen optimal," tutur Agus.
Langkah mitigasi berbasis teknologi ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas pasokan dan harga cabai di pasar nasional, tetapi juga menjaga keberlanjutan mata pencaharian petani di tengah ancaman krisis iklim global.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4042754/original/094706200_1654358757-Screenshot_1983.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374131/original/033077800_1792037447-WhatsApp_Image_2026-10-14_at_22.47.10.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5173822/original/019361000_1742884762-IMG-20250325-WA0020.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375286/original/049769500_1792137815-WhatsApp_Image_2026-10-16_at_14.37.56.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574765/original/049823000_1777977070-Bahlil_Istana.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497597/original/013342400_1770638549-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4112074/original/097506200_1659528504-IHSG_Ditutup_Menguat-Angga-5.jpg)