Curhat Pahit UMKM: Sewa Stand Rp1 Juta, Sehari Sepi Pembeli

Niat hati meraup untung dari pameran, Fera justru harus gigit jari. Sudah keluar sewa stan Rp1 juta, dagangannya sepi hingga terpaksa membuang bahan sayuran yang tak tahan lama.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi- Reporter
Curhat Pahit UMKM: Sewa Stand Rp1 Juta, Sehari Sepi Pembeli
Fera, Pelaku UMKM di Bazar UMKM Jakarta (15/10/2026).

 

Niat hati meraup untung dari ajang pameran UMKM, nasib apes justru menghampiri Fera, pelaku usaha kuliner binaan Kementerian UMKM. Alih-alih mengantongi omzet melimpah, Fera harus menelan pil pahit lantaran bazar yang diikutinya sepi pengunjung.

Fera, yang menjajakan menu nasi gudeg, nasi rames, siomay, hingga asinan, mengaku gelaran kali ini jauh di luar ekspektasi. Padahal, ia sudah merogoh kocek lumayan besar untuk menyewa stan.

"Satu booth harganya Rp1 juta untuk dua hari," tutur Fera kepada tim Merdeka.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sepinya pembeli sudah dirasakan Fera sejak pagi. Bahkan hingga menjelang waktu makan siang, belum ada satu pun pembeli yang mampir ke stannya.

"Tadi dari pagi sampai jam setengah satu siang baru 'pecah telur'. Itu juga karena ada yang pesan 8 porsi. Kalau enggak ada pesanan itu, aku belum laku sama sekali," ungkap Fera. Hingga bazar mendekati jam tutup sore hari, dagangannya baru laku sekitar 10 sampai 15 porsi.

 

Usaha Berat di Modal

Sayuran di Warung Bu Lie
Beberapa sayuran yang dipastikan terbuang karena tidak laku.

Kondisi ini jelas memberatkan modal Fera. Bahan makanan yang dipersiapkan sejak pagi menumpuk begitu saja. Dari tiga kantong porsi nasi yang ia bawa dari rumah, hanya satu kantong yang berhasil terjual.

Tak cuma itu, Fera juga harus menanggung kerugian nyata dari bahan makanan yang tak tahan lama. Untuk lauk-pauk, ia masih bisa memindahkannya ke warung makan (warteg) miliknya di Kebon Jeruk atau ke stan bazar lain yang sedang diikutinya di kawasan BSD. Namun, lain ceritanya dengan menu berbahan dasar sayur.

"Pasti ada yang terbuang. Kalau sayuran pasti terbuang, karena enggak bisa dipakai lagi buat besok," kata Fera pasrah.

 

Panitia Kurang Transparan

Fera pun menyayangkan kurangnya transparansi dari pihak penyelenggara acara (event organizer) maupun panitia. Menurutnya, pelaku UMKM sangat membutuhkan kejelasan mengenai profil acara, jam ramai, serta estimasi jumlah pengunjung agar tak termakan harapan hampa.

"Harapannya ke depan, kalau bikin acara dijelaskan detailnya seperti apa, biasanya pengunjung ada berapa orang, dan jam berapa ramainya. Biar enggak ada harapan palsu kayak gini," tegasnya.

Ia berharap Kementerian UMKM dan penyelenggara bazar lebih memperhatikan nasib para pelaku usaha binaan. Dengan begitu, pameran yang digelar benar-benar memberi manfaat dan keuntungan bagi pedagang yang sudah keluar modal tak sedikit.

Rekomendasi