LKPP Dorong Belanja Pemerintah Rp929 Triliun Bawa Dampak Ekonomi

LKPP atur strategi belanja pemerintah Rp929 triliun di Business Matching 2026. Dorong penggunaan produk dalam negeri.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
LKPP Dorong Belanja Pemerintah Rp929 Triliun Bawa Dampak Ekonomi
<p>Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan LKPP Sarah Sadiqa. (Foto: LKPP)</p>

Langkah pengadaan barang dan jasa (PBJ) pemerintah kini dirancang lebih awal agar manfaatnya langsung mengucur deras ke masyarakat. Guna menyelaraskan kebutuhan negara dengan kesiapan pelaku usaha, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menggelar ajang Business Matching LKPP 2026 di Jakarta pada Rabu–Kamis (14–15/10/2026). 

Mengusung tema “Pengadaan Berdampak, Ekonomi Bergerak”, forum bisnis ini dibuka resmi oleh Kepala LKPP Sarah Sadiqa. Ia menegaskan, agenda ini menjadi ruang strategis untuk memetakan kemampuan pasar, mengenali potensi kendala, serta mematangkan rencana pengadaan di tiap Kementerian/Lembaga (K/L).

"Kita ingin setiap rupiah belanja pemerintah tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga menggerakkan produksi, membuka kesempatan kerja, memperkuat industri nasional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Sarah, Kamis (15/10).

Skala belanja negara yang dikelola LKPP memang terbilang jumbo. Pada Tahun Anggaran 2026, potensi nilai belanja pengadaan pemerintah diperkirakan menembus angka Rp929,4 triliun, atau menyerap sekitar 30 persen dari total APBN.

Hingga 13 Oktober 2026, nilai transaksi Produk Dalam Negeri (PDN) telah melambung ke angka Rp389,2 triliun, yang menyumbang sekitar 91,3 persen dari keseluruhan transaksi penyedia. 

"Kita harus memastikan bahwa belanja pemerintah menghasilkan barang dan jasa yang tepat mutu, tepat waktu, efisien, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Artinya, setiap keputusan pengadaan harus mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus yaitu memenuhi kebutuhan pemerintah dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," tegas Sarah.

Jaga Integritas dan Dukung Swasembada Pangan

Dari kacamata tata kelola, Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif Hiariej menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas demi membendung praktik kecurangan dalam proses PBJ. Pemerintah pun berencana mempercepat penyusunan Undang-Undang Pengadaan Barang dan Jasa, sejalan dengan rencana Presiden membentuk badan pengadaan khusus. 

"Dengan transparansi, akuntabel, dan integritas, maka perbuatan-perbuatan yang bersifat koruptif ini bisa dihindari," kata Edward.

Di sisi lain, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyoroti peran pengadaan belanja pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional. Meski porsinya berkisar 13 hingga 16 persen dari PDB, alokasi anggaran ini sanggup menentukan arah pembangunan, termasuk menopang swasembada pangan, energi, dan air di empat provinsi.

Mengingat Indonesia baru berhasil mencapai swasembada beras dan jagung—sementara gula dan susu masih bergantung impor, Hanif mengajak para pelaku usaha mengambil bagian memenuhi kebutuhan ini sesuai aturan.

"Tidak ada niat baik yang boleh dilakukan dengan sembrono, dengan persepsi sendiri. Kita memiliki tata kelola yang sangat jelas," ucap Hanif.

LKPP berharap Business Matching 2026 tak berhenti sebatas gelaran seremonial. Acara ini dilengkapi booth kementerian, workshop peluang bisnis, hingga pameran UMKM untuk membukakan jalan bagi para pelaku usaha lokal menembus rantai pasok belanja negara.

Rekomendasi