Kabut Asap Berpotensi Rugikan Malaysia Rp6,59 Triliun per Bulan

Kabut asap bisa merugikan Malaysia hingga RM 1,5 miliar per bulan (sekitar Rp 6,59 triliun), menekan pariwisata, pertanian, dan menaikkan biaya kesehatan.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Kabut Asap Berpotensi Rugikan Malaysia Rp6,59 Triliun per Bulan
Kabut asap di kawasan Bundaran Besar dan ruang terbuka hijau (RTH), Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (Dok. Istimewa)

Kabut asap lintas negara diperkirakan merugikan Malaysia antara RM 20 juta hingga RM 50 juta per hari, atau sekitar Rp 87,9 miliar hingga Rp 219,75 miliar berdasarkan kurs Rp 4.395 per Ringgit. Kerugian itu muncul dari terganggunya aktivitas ekonomi, naiknya biaya kesehatan, dan menurunnya produktivitas pekerja.

Profesor ekonomi Sunway University Dr. Yeah Kim Leng memperingatkan angka tersebut merupakan perkiraan konservatif dan dapat meluas bila kabut asap berkepanjangan. Ia menyebut sektor pariwisata dan penerbangan sebagai yang paling rentan karena polusi udara dapat menekan kedatangan wisatawan hingga 8 persen.

"Kerugian ekonomi yang sebenarnya berpotensi membengkak hingga RM 600 juta sampai RM 1,5 miliar per bulan," ujarnya dikutip dari Malay Mail, Kamis (15/10/2026). Jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp 2,64 triliun-Rp 6,59 triliun per bulan. Selain pariwisata, sektor pertanian juga terdampak: petani sayuran di Johor melaporkan penurunan produksi, panen buah disebut berkurang hingga separuh, dan industri kelapa sawit berpotensi merasakan dampak tertunda selama enam sampai 12 bulan.

Beban Biaya Kesehatan Meningkat

Kabut Asap Karhutla di Kalimantan Ancam Kesehatan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga
Seorang ibu bersama anaknya yang mengenakan masker melihat kondisi sekitar dari atas jembatan di tengah kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Reina/AFP)

Selain mengganggu produksi, kabut asap menghambat distribusi barang karena jarak pandang terbatas dan menurunkan kualitas udara sehingga beberapa aktivitas konstruksi harus berhenti sementara. Kedatangan pengunjung ke pusat perbelanjaan dan toko juga berpotensi turun.

Pakar kedokteran kesehatan masyarakat Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr. Mohd Hafiz Jaafar, mengatakan angka biaya pengobatan langsung hanya sebagian dari total dampak ekonomi kabut asap.

"Secara nasional, biaya akibat penyakit meningkat dari sekitar RM 21 juta pada kabut asap 1997 menjadi RM 410 juta pada 2013," kata Dr. Mohd Hafiz Jaafar. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp 92,3 miliar dan Rp 1,8 triliun.

Hafiz menjelaskan angka itu baru mencakup pengobatan penyakit pernapasan, sementara dampak pada jantung dan pembuluh darah belum sepenuhnya diperhitungkan. Kerugian tidak langsung juga timbul ketika pekerja absen, tetap masuk tetapi tidak bekerja optimal, atau produktivitasnya menurun.

"Jadi, kabut asap bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah ekonomi," ujarnya. Hafiz mendorong kerja sama lintas negara dengan Indonesia untuk memadamkan kebakaran sejak dari sumbernya. Menurut dia, pencegahan regional jauh lebih hemat dibandingkan menanggung kerugian yang berulang.

Rekomendasi