Menabung itu cuma soal teknis, tetapi menahan diri dari godaan spending adalah perjuangan mental. Di era digital, benteng terkuat keuangan Gen Z bukan seberapa tebal saldo yang dimiliki, melainkan seberapa kuat kontrol diri yang dikuasai.
Gen Z sering kali disalahpahami terkait literasi keuangan. Banyak dari mereka sebenarnya sudah tahu dan paham teori pengelolaan keuangan, namun gagal di tahap eksekusi akibat lemahnya kontrol diri (self-control).
Head of Brand Experience & Community BCA Digital, Rudini Triyadi, menyoroti fenomena ini dalam acara peluncuran buku “Dear Money, We Need to Talk” dan peresmian Rekor MURI di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta Selatan, Selasa (13/10).
Ia mengungkapkan bahwa menahan impulsivitas belanja di tengah gempuran tren media sosial jauh lebih berat ketimbang sekadar menyisihkan uang.
"Satu kata yang saya dapat dari sekian ratus artikel jurnal yang saya baca: kendalikan. FOMO, YOLO, atau apa pun istilahnya, kunci terbesarnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Menabung itu sebenarnya mudah, yang jauh lebih sulit adalah menahan diri untuk tidak belanja," tegas Rudini.
Advertisement
Menjinakkan 'Desire to Spend'
Hasrat untuk belanja (desire to spend) sering kali dipicu oleh impulsivitas dari pengaruh eksternal, mulai dari tren teman sebaya hingga rasa cemas akan ketertinggalan (financial anxiety).
Tanpa self-control yang kuat, teori maupun fitur canggih perbankan digital tidak akan berdampak maksimal. Oleh karena itu, mengendalikan diri bukan berarti melarang total keinginan menikmati hidup, melainkan melatih kesadaran (mindfulness) dalam setiap keputusan finansial.
Sebab, belanja impulsif sering kali terjadi bukan karena butuh barangnya, melainkan sekadar mencari validasi instan. Di sinilah pentingnya financial mindfulness, yakni kemampuan memberi jeda antara keinginan belanja dan keputusan mengeksekusi transaksi.