Tekan Emisi Batu Bara, PLN EPI Bersiap Uji Coba Co-Firing Amonia di PLTU Labuan

PLN EPI bersiap uji coba co-firing amonia di PLTU Labuan pada 2027 demi pangkas emisi batubara dan percepat transisi energi NZE 2060.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Tekan Emisi Batu Bara, PLN EPI Bersiap Uji Coba Co-Firing Amonia di PLTU Labuan
<p>PLN berhasil melakukan uji coba penggunaan 75 persen biomassa Woodchips (kepingan kayu) untuk bahan bakar pengganti batu bara (cofiring) di PLTU Bolok dengan kapasitas 2x16,5 Megawatt (MW) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Dok PLN)</p>

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mematangkan langkah transisi energi bersih. Anak usaha PLN ini bersiap menggelar uji coba pencampuran bahan bakar (co-firing) amonia dengan batubara di PLTU Labuan, Banten, yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.

Langkah ini menjadi salah satu solusi pemanfaatan bahan bakar rendah karbon demi menekan tingkat emisi pembangkit listrik tenaga uap.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa inisiatif ini masuk dalam peta jalan (roadmap) pengembangan hidrogen dan amonia perusahaan yang dirancang bertahap hingga 2030. Agenda besar ini bertujuan memperkuat fondasi teknologi serta rantai pasok sebelum memasuki fase komersialisasi.

"Setelah memulai studi pasokan pada 2026, PLN EPI menargetkan uji coba skala kecil dengan tingkat co-firing hingga 3 persen di PLTU Labuan pada 2027 sebagai tahap awal untuk menguji aspek teknis, keekonomian, dan kesiapan rantai pasok sebelum dikembangkan lebih lanjut," terangnya dikutip dari Antara di Jakarta, Senin (12/10).

Hokkop menekankan bahwa pengembangan amonia pada pembangkit eksisting memerlukan kajian komprehensif. Tantangannya tidak hanya mencakup kesiapan infrastruktur pembangkit, tetapi juga aspek ekonomis serta jaminan pasokan.

"Untuk amonia, kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya," ujar Hokkop.

Dalam peta jalan PLN EPI, pemetaan pasokan amonia dimulai pada 2026, dengan menggandeng PT Pupuk Kujang Cikampek sebagai salah satu opsi sumber awal.

Tahap berikutnya adalah pilot project dengan persentase campuran maksimal 3 persen di PLTU Labuan pada 2027. Data dari proyek percontohan ini akan dievaluasi secara teknis dan ekonomis pada 2028.

Selanjutnya, PLN EPI membidik integrasi rantai pasok pada 2029, sebelum melakukan studi kelayakan untuk meningkatkan porsi co-firing menjadi 3–5 persen atau lebih pada 2030.

Tantangan Harga dan Logistik

Skema bertahap ini dinilai krusial mengingat tantangan co-firing amonia berbeda dibanding bahan bakar konvensional. Faktor harga dan keterbatasan pasokan pasar menjadi tantangan utama yang harus diurai.

"Untuk saat ini, harganya masih menjadi tantangan. Karena itu, kita perlu melakukan pilot terlebih dahulu, belajar dari sana, kemudian melihat bagaimana teknologi dan keekonomiannya berkembang," jelas Hokkop.

Selain itu, amonia saat ini sudah memiliki ceruk pasar yang besar di sektor industri, khususnya produsen pupuk. Oleh sebab itu, alokasi amonia untuk sektor ketenagalistrikan harus memperhitungkan keseimbangan pasokan lintas sektor, kesiapan logistik, hingga kepastian volume.

Strategi Jangka Panjang Menuju NZE 2060

Pengembangan hidrogen dan amonia merupakan bagian inti dari komitmen jangka panjang PLN Group dalam mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Selama masa transisi, PLN menerapkan berbagai pendekatan terukur—mulai dari co-firing biomassa, efisiensi pembangkit, hingga adopsi amonia.

Hokkop menilai periode 2026–2030 sebagai fase krusial untuk membangun fondasi rantai pasok dan membuktikan keandalan teknologi.

"Tahapan ini diharapkan memberikan dasar yang kuat untuk menentukan skala penerapan amonia yang layak secara teknis, kompetitif secara ekonomi, serta didukung rantai pasok yang andal sebagai bagian dari perjalanan transisi energi menuju NZE 2060," pukasnya.

Rekomendasi