Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dinilai menyimpan potensi besar bagi perekonomian warga lokal. Selain membuka lapangan kerja baru, proyek ini diperkirakan mampu mendorong tumbuh kembang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta mendongkrak pendapatan daerah.
Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip), Agus Setyawan, menjelaskan bahwa dampak positif energi panas bumi (geothermal) sudah bisa dirasakan mulai dari tahap pengerjaan fisik hingga operasional.
"Prakonstruksi ini kemungkinan menyerap tenaga kerja yang banyak. Pembangunan jalan dan pembangunan PLTP-nya akan banyak menyerap tenaga kerja. Saat konstruksi pembangunan PLTP-nya nanti juga banyak melibatkan masyarakat," kata Agus dalam diskusi bertajuk Panas Bumi, Mitos dan Sains di Joglo Ponpes Al Itqon, Tlogosari Wetan, Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (11/10/2026) malam.
Menurut Agus, peluang ekonomi ini harus ditangkap warga setempat sejak awal. Keterlibatan masyarakat sebaiknya tak berhenti sebagai pekerja kasar, tetapi diarahkan agar bisa memetik manfaat ekonomi berkelanjutan saat pembangkit resmi beroperasi.
Ia mendorong masyarakat aktif menyampaikan aspirasi dan usulan ke pihak pengembang. Hal itu mencakup dukungan bagi usaha warga, penyediaan pasokan harian operasional PLTP, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Agus mencontohkan sektor peternakan dan UMKM sebagai bidang yang berpeluang besar masuk ke dalam rantai pasok kebutuhan operasional PLTP. Di sisi lain, proyek energi bersih ini juga idealnya diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal.
"Pengembangan sumber daya manusia juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi melalui pendidikan, pelatihan, dan penelitian mengenai energi panas bumi," ujarnya.
Kendati demikian, Agus berpesan agar pengembangan energi geothermal di Gunung Ungaran tidak merusak kelestarian situs bersejarah dan cagar budaya sekitar, terutama Candi Gedong Songo.
"Saya sangat sepakat dan sangat mendukung Candi Gedong Songo tidak boleh diganggu gugat. Apa pun yang terjadi, jangan pernah mengganggu cagar budaya," tegasnya.
Advertisement
Walhi Soroti Surplus Listrik dan Risiko Lingkungan
Berbeda pandangan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah, Fahmi Bastian, justru mempertanyakan urgensi pembangunan PLTP baru di Jawa Tengah. Ia menilai pasokan listrik di Jateng saat ini sudah sangat memadai, bahkan cenderung mengalami kelebihan (surplus).
Berdasarkan riset Walhi, kapasitas pembangkit listrik terpasang di Jawa Tengah telah menyentuh angka sekitar 8.000 megawatt (MW). Sementara itu, beban puncak kebutuhan listrik masyarakat hanya berkisar di angka 5.200 MW.
"Artinya ada surplus pasokan sekitar 2.800 MW," ungkap Fahmi.
Fahmi memperingatkan bahwa penambahan pembangkit baru di tengah kondisi pasokan berlebih berisiko memicu persoalan ekonomi bagi negara. "PLN harus membeli listrik dari pembangkit yang beroperasi, sementara sebagian pasokan yang tersedia tidak terserap sesuai kapasitasnya," sebutnya.
Ia pun menambahkan bahwa penolakan Walhi terhadap sejumlah proyek geothermal didasari oleh potensi kerusakan lingkungan serta ancaman konflik agraria dengan warga sekitar. Fahmi mengambil contoh proyek di kawasan Dieng yang menurutnya kerap menyisakan persoalan pelepasan lahan dan keadilan sosial bagi warga pemungut hasil bumi.
"Ketika masyarakat menolak tanahnya dijual, namun karena ini proyek berstatus Proyek Strategis Nasional, mau tidak mau mereka harus mau. Kalau tidak mau, konsinyasi di pengadilan," katanya.
Selain isu sosial, besarnya biaya investasi dan ketidakpastian hasil pengeboran sumur geothermal menjadi alasan kuat mengapa kelayakan proyek ini harus dikaji ulang secara mendalam. "Karena itu, aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan kelayakan pengembangan proyek geothermal," paparnya.