BPS Ungkap Beda Pola Belanja Masyarakat Kota dan Desa

BPS mencatat konsumsi masyarakat kota didominasi belanja non-pangan, sedangkan desa fokus pangan. Per kapita bulanan keduanya terpaut lebar.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
BPS Ungkap Beda Pola Belanja Masyarakat Kota dan Desa
Ilustrasi seorang perempuan belanja di supermarket. (Odua/depositphotos.com)

Konsumsi masyarakat di perkotaan dan perdesaan menunjukkan jurang yang jelas. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk kota sekitar Rp 1,90 juta, sedangkan di desa sekitar Rp 1,28 juta. Perbedaan tidak hanya pada nominal, tetapi juga pada struktur belanja harian.

Temuan ini termuat dalam publikasi BPS bertajuk "Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026", dikutip Minggu (11/10/2026). BPS menegaskan ketimpangan tersebut melalui data resmi yang dirilis dalam laporan periodik.

"Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk daerah perkotaan adalah sebesar Rp 1.902.997, sedangkan untuk penduduk daerah perdesaan sebesar Rp 1.287.359," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Dari sisi komposisi, penduduk kota kini menempatkan kelompok bukan makanan sebagai porsi terbesar pengeluaran. Di perkotaan, pangsa bukan makanan mencapai 53,61% dengan nilai Rp 1.020.147, sementara makanan 46,39% atau Rp 882.850.

"Di daerah perdesaan, pangsa pengeluaran untuk makanan masih mendominasi dengan persentase sebesar 57,39% dari total pengeluaran, sedangkan untuk kelompok bukan makanan hanya sebesar 42,61%," jelas BPS dalam laporan tersebut.

Secara nominal, rata-rata belanja bukan makanan penduduk desa tercatat Rp 548.514 per kapita per bulan, jauh di bawah alokasi bukan makanan penduduk kota.

Pergeseran Konsumsi Masyarakat pada Makanan Siap Saji

Pada kelompok pangan, gaya belanja juga berbeda. Di kota, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi—termasuk makan di luar maupun produk praktis—mencapai Rp 325.119 per kapita sebulan. Nilai ini jauh di atas desa yang mengalokasikan Rp 208.572.

Sebaliknya, belanja bahan mentah yang dimasak di rumah, seperti beras atau padi-padian, di perdesaan relatif lebih tinggi dengan Rp 114.739. Angka tersebut mendekati pengeluaran penduduk kota untuk komoditas serupa yang tercatat Rp 108.971.

Pangsa belanja bukan makanan yang lebih besar di perkotaan mengindikasikan tingkat kesejahteraan dan ragam kebutuhan harian yang lebih luas, sementara di perdesaan penguatan daya beli masih diperlukan agar alokasi tidak terserap mayoritas pada pangan pokok.

Rekomendasi