Harga emas Antam kembali menguat pada perdagangan Sabtu (10/10/2026). Pada sesi ini, harga emas naik Rp 20.000 per gram dibanding sehari sebelumnya.
Mengutip laman resmi logammulia.com, harga jual emas Antam kini berada di Rp 2.592.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.572.000 per gram.
Harga buyback juga bergerak naik Rp 25.000 ke level Rp 2.401.000 per gram. Harga buyback adalah nilai yang diterima pemilik saat menjual kembali emas batangan ke Antam, sementara harga jual di awal perdagangan menjadi patokan untuk konsumen.
Dalam dua hari terakhir, akumulasi penguatan harga emas Antam mencapai Rp 27.000.
Sebagai catatan, emas Antam pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada Kamis (29/1/2026) di Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback yang sempat menembus Rp 2.989.000 per gram.
Rincian harga emas Antam per ukuran pada Sabtu (10/10/2026) adalah sebagai berikut:
- 0,5 gram: Rp 1.346.000
- 1 gram: Rp 2.592.000
- 2 gram: Rp 5.134.000
- 3 gram: Rp 7.683.000
- 5 gram: Rp 12.775.000
- 10 gram: Rp 25.470.000
- 25 gram: Rp 63.510.000
- 50 gram: Rp 126.855.000
- 100 gram: Rp 253.560.000
- 250 gram: Rp 633.590.000 (pre-order)
- 500 gram: Rp 1.266.900.000 (pre-order)
- 1.000 gram: Rp 2.532.600.000 (pre-order).
Advertisement
Harga Emas Global Menguat
Harga emas dunia menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026 (Sabtu pagi waktu Jakarta), menuju level tertinggi dalam sepekan. Kenaikan dipicu aksi beli di level rendah setelah harga sempat menyentuh titik terendah dua bulan pada awal pekan, sementara pasar mencermati prospek kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, Sabtu (10/10/2026), harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.189,99 pada pukul 15.13 EDT. Sebelumnya, logam mulia ini tertekan penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menekan aset tanpa imbal hasil.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 1,43% ke US$ 4.216,3 per ons. Sepanjang pekan, harga emas membukukan kenaikan 1,3%.
"Harga emas menguat karena adanya aksi beli di harga rendah, mengingat terbentuknya batas bawah (floor) di kisaran level US$ 4.000," ujar Analis Stone X, Rhona O’Connell.
Ia menilai pasar juga sudah mencerminkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan The Fed, bersamaan dengan ekspektasi pembelian bersih berlanjut oleh bank sentral.
"Tanpa adanya peristiwa tak terduga yang berdampak masif (Black Swan event), sulit bagi saya untuk melihat harga emas menembus ke level yang jauh lebih tinggi secara meyakinkan," ujar Rhona.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade yang sempat dicapai pada hari Rabu.
Advertisement
Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, pada Kamis menyebut bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi ke target 2%.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar memperhitungkan peluang 19% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober dan probabilitas 84% untuk setidaknya satu kali kenaikan 25 basis poin pada Desember.
Dalam lingkungan suku bunga tinggi, emas cenderung kurang menarik dibanding aset berimbal hasil seperti obligasi.
"Rilis data CPI pekan depan dapat menjadi katalis bagi pergerakan besar emas berikutnya.Inflasi yang masih membandel, yang mendorong The Fed untuk melakukan siklus kenaikan suku bunga yang lebih agresif, dapat memaksa harga emas spot untuk kembali menguji level support psikologis di angka $4.000," ujar kepala analis pasar di Bybit, Han Tan.
Sementara itu, permintaan emas di India melemah pekan ini seiring kenaikan harga, sedangkan aktivitas perdagangan di China melambat karena periode perdagangan yang lebih singkat akibat libur.
Di antara logam lain, harga perak spot naik 2,7% menjadi US$ 60,93 per ons.