Kampung Singkong Salatiga Berharap Jadi Destinasi Wisata Unggulan, Dongkrak Ekonomi Lokal

Pelaku UMKM di Kampung Singkong Salatiga berambisi menjadi destinasi wisata unggulan, mendorong perekonomian lokal dan pariwisata. Bagaimana potensi besar ini akan diwujudkan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kampung Singkong Salatiga Berharap Jadi Destinasi Wisata Unggulan, Dongkrak Ekonomi Lokal
Pelaku UMKM di Kampung Singkong Salatiga berambisi menjadi destinasi wisata unggulan, mendorong perekonomian lokal dan pariwisata. Bagaimana potensi besar ini akan diwujudkan? (AntaraNews)

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) olahan singkong di Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, menyuarakan harapan besar. Mereka menginginkan Kampung Singkong di wilayah tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Ambisi ini bertujuan untuk mengangkat perekonomian daerah serta memperkuat sektor pariwisata Kota Salatiga secara signifikan.

Ketua Paguyuban Kampung Singkong, Toni Anandya Wicaksono, mengungkapkan keinginan tersebut pada Jumat (07/11) di Salatiga. Ia berharap penuh agar kehadiran pemerintah pusat, provinsi, dan kota dapat bersinergi mewujudkan potensi ini. Dengan demikian, Kampung Singkong dapat menjadi daya tarik utama yang mendatangkan banyak pengunjung.

Inisiatif pembentukan Kampung Singkong sendiri tercetus pada tahun 2018, berawal dari pesatnya pertumbuhan UMKM olahan singkong di Kelurahan Ledok. Sejak saat itu, UMKM terus berkembang pesat berkat program pemberdayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Salatiga. Kini, kampung ini siap untuk melangkah lebih jauh menjadi ikon wisata.

Perjalanan dan Inovasi UMKM Olahan Singkong

Sejarah panjang UMKM olahan singkong di wilayah ini bermula dari Gethuk Satu Rasa, atau yang lebih dikenal dengan Gethuk Kethek yang legendaris. Keberhasilan Gethuk Kethek kemudian memicu munculnya berbagai UMKM olahan singkong lainnya. Beberapa di antaranya adalah Argotelo Kreasi Indonesia, Singkong Keju D-9, dan Cassava, yang semuanya turut memperkaya khasanah kuliner lokal.

Toni Anandya Wicaksono menjelaskan, awalnya hanya ada 16 UMKM olahan singkong yang bergabung. Namun, seiring waktu dan perkembangan, jumlahnya kini telah mencapai 38 UMKM yang aktif. Pertumbuhan signifikan ini menjadi dasar kuat untuk membentuk identitas Kampung Singkong yang lebih terstruktur dan dikenal luas.

Setiap harinya, ke-38 UMKM ini mampu mengolah sekitar 8 hingga 10 ton singkong menjadi beragam produk inovatif. Varian produk yang dihasilkan sangat bervariasi, mulai dari singkong keju, gethuk, keripik, olahan singkong beku (frozen), hingga tepung mocaf. Bahkan, ada pula produk wisata dan batik bermotif singkong yang unik, menunjukkan kreativitas tanpa batas para pelaku usaha.

Omzet tahunan yang dihasilkan oleh para pelaku UMKM di Kampung Singkong Salatiga ini terbilang fantastis, mencapai total sekitar Rp25 miliar. Produk-produk olahan singkong ini tidak hanya dijual secara langsung kepada wisatawan yang berkunjung. Namun, juga didistribusikan hingga ke wilayah Jabodetabek dan Bali, memperluas jangkauan pasar mereka secara signifikan.

Potensi Ekspor dan Dukungan Penuh Pemerintah

Keberhasilan Kampung Singkong Salatiga tidak hanya terbatas di pasar domestik, tetapi juga merambah pasar internasional. Salah satu UMKM andalannya, Argotelo Kreasi Indonesia, telah berhasil mengekspor produknya ke berbagai negara seperti Australia, Hong Kong, dan Singapura. Pencapaian ini membuktikan kualitas dan daya saing produk olahan singkong dari Salatiga di kancah global.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang besar, singkong didatangkan dari petani di wilayah pegunungan dan lereng pegunungan. Daerah-daerah pemasok meliputi Salatiga, Wonosobo, Magelang, Batang, dan Temanggung. Hal ini dilakukan karena produksi singkong di wilayah Salatiga sendiri belum mencukupi untuk memenuhi kapasitas produksi UMKM yang terus meningkat.

Toni Anandya Wicaksono berharap pemerintah dapat memberikan masukan dan solusi kepada petani serta pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan bahan baku singkong terbaik secara berkelanjutan. Kualitas bahan baku yang prima sangat esensial untuk menjaga standar produk olahan singkong yang telah dikenal luas.

Selain sebagai sentra produksi, Kampung Singkong juga aktif menyelenggarakan Festival Singkong setiap tahunnya. Festival ini diharapkan dapat masuk dalam kalender event atau wisata nasional, sehingga menarik lebih banyak pengunjung. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmen Pemprov Jateng untuk mendukung penuh UMKM ini. Ia menyatakan, "UMKM ini harus kita dukung penuh untuk berkembang dan bertumbuh."

Gubernur Luthfi juga menyoroti peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Jawa Tengah, menciptakan banyak lapangan kerja. Sebagai contoh, Kampung Singkong telah menyerap 211 tenaga kerja lokal, menunjukkan dampak positifnya. Dukungan Pemprov mencakup bantuan permodalan, penyediaan outlet penjualan, dan pelatihan. Semua ini bertujuan agar UMKM di Jawa Tengah dapat "naik kelas" dan semakin maju.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi