Bahan baku impor dinilai bikin harga obat di Indonesia mahal

Impor bahan baku tersebut bisa menimbulkan adanya 'permainan' harga yang dipasang oleh negara importir.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Bahan baku impor dinilai bikin harga obat di Indonesia mahal
Ilustrasi obat kanker. ©Shutterstock.com/ Tish1

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), M. Syarkawi Rauf mengatakan Indonesia masih tergantung pada impor bahan baku obat-obatan dari negara lain. Hal ini yang menjadi penyebab harga obat-obatan di Indonesia masih relatif mahal.

"Salah satu penyebab adalah bahan baku impor makanya harganya mahal. Input bahan baku obat, ketergantungan kita cukup tinggi terhadap dua sumber, yaitu dari India dan China," kata Syarkawi di Gedung KPPU, Jakarta Pusat, Kamis (19/11).

Dia menjelaskan, impor bahan baku tersebut bisa menimbulkan adanya 'permainan' harga yang dipasang oleh negara importir. Sehingga, biaya produksi dan harga obat menjadi semakin mahal.

"Jangan sampai mereka menjual bahan baku dengan harga yang tinggi ke perusahaan farmasi. Pasti harga produksi di farmasi akan lebih tinggi. Jika ada dua importir, bisa saja mereka bersepakat untuk menetapkan harga jual bahan baku ke perusahaan farmasi di Indonesia, sehingga harga bahan baku mahal dan ongkos produksi jadi tinggi," jelas dia.

Padahal, lanjut Syarkawi, Indonesia masih memiliki potensi alam untuk menyediakan bahan baku obat-obatan. Namun, pemerintah kurang bisa memanfaatkan potensi ini dan mengurangi ketergantungan impor.

Dengan demikian, adanya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 87 tahun 2015 tentang ketentuan impor produk tertentu, diharapkan bisa menekan harga bahan baku obat dengan diubahnya importir terdaftar menjadi importir umum.

"Apakah kebijakan ini akan membuat harga barang input menjadi murah karena dibebaskan impornya. Dengan dibuatnya importir umum bisa saja mendorong harga bahan baku jadi lebih murah dengan harga input yang lebih rendah. Karena kebijakan itu memberangus dugaan kartel di importasi bahan baku obat," pungkas dia.

Rekomendasi