PT Freeport Indonesia (PTFI) bergeming meski sudah didesak banyak pihak, termasuk pemerintah untuk membangun pabrik pengolahan (smelter) di dekat lokasi tambang Papua.
Freeport ngotot membangun smelter di Gresik, Jawa Timur dengan segala pertimbangan. Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menuturkan, pihaknya membutuhkan dana USD 2,3 miliar untuk membangun smelter. Freeport memilih membangun di Gresik karena infrastruktur pendukungnya sudah tersedia.
"Smelter ada penilaian teknis dan bisnis. Kami sudah memutuskan berdasarkan pertimbangan teknis dan bisnis, dan dukungan infrastruktur, akan dibangun di Gresik, di sana terdukung listrik ada pelabuhan ada air ada, kalau mau bangun smelter itu yang perlu diperhatikan adalah industri lanjutan," ujar Maroef Sjamsoeddin di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (25/5).
Smelter di Gresik diperkirakan hanya mampu menyerap 40 persen konsentrat yang diproduksi. Jika nantinya harus membangun smelter di dekat lokasi tambang di Papua, perusahaan yang berafiliasi ke Freeport McMoran di AS itu memberi persyaratan. Mantan Wakil Kepala BIN tersebut meminta dukungan infrastruktur.
"Adapun nantinya kalau akan dibangun di Papua, bagi Freeport ni perlu didukung. Mengatasi masalah konsentrat ini perlu didukung," ucapnya.
Maroef sepakat, perlu tambahan smelter untuk pengolahan hasil tambang yang semakin besar. Sebab saat ini smelter yang sudah beroperasi tak akan mampu menampung tambahan pasokan konsentrat mentah.
"Karena di masa akan datang yang menghasilkan konsentrat itu tak hanya Freeport, ada Newmont. Ada di Gorontalo. Besaran konsentrat tak akan bisa ditampung oleh smelter yang sudah eksis saat ini," katanya.