Ini anak buah Dahlan Iskan yang 'bertangan dingin

Seperti Dahlan yang tak segan memecat anak buahnya, beberapa bos perusahaan BUMN juga tak segan melakukan hal yang sama.

Wisnoe Moerti
Oleh Wisnoe Moerti - Reporter
Ini anak buah Dahlan Iskan yang 'bertangan dingin
BUMN Bersyukur. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Sejak awal menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan , dikenal dengan pelbagai aksi bongkar pasang jajaran direksi perusahaan-perusahaan BUMN. Sudah banyak direksi BUMN, mulai dari direktur utama hingga jajaran di bawahnya, yang diganti oleh Dahlan.

Dahlan punya kriteria sendiri untuk anak buahnya. Salah satunya, harus sejalan dengan Dahlan. Dia mengaku, dalam memilih anak buah tidak sembarangan menunjuk orang. Syarat menjadi anak buah Dahlan salah satunya adalah teruji integritas dan punya semangat (antusias) untuk bekerja demi negara.

Khusus untuk posisi direktur utama (dirut), Dahlan mengaku punya kriteria khusus mengenai sosok dirut ideal. Yang utama adalah kepribadiannya harus bagus. Dahlan tidak segan mencopot atau memecat bos BUMN jika tidak mumpuni dalam memimpin perusahaan.

Daftar 'korban' pemecatan Dahlan cukup panjang. Sebut saja mantan Dirut Merpati Rudy Setyopurnomo, mantan Direktur Utama Pertani Eddy Budiono, atau mantan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV atau Pelindo IV Harry Sutanto.

Dahlan juga mengingatkan direksi BUMN harus menghindari budaya pimpinan sok berkuasa. Mantan Dirut PLN ini mencontohkan kebiasaan petinggi perusahaan pelat merah di masa lalu yang sering memarahi anak buah. Padahal hal itu tidak akan memotivasi karyawan meningkatkan kinerja.

"Dianggap semakin sering marah, semakin wibawa. Padahal bawahannya bilang kerjaannya marah saja. Marah tetap perlu, tapi kapan waktu yang tepat dan memberi kesempatan bawahan semakin berkembang" katanya saat membuka penghargaan Annual Pertamina Quality Award 2013, di Aula Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (30/10).

Pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sepertinya bisa untuk menggambarkan sepak terjang bos-bos BUMN. Dengan dalih demi kemajuan, mereka menjalankan perusahaan dengan tangan dingin.

Seperti halnya Dahlan yang tak segan memecat anak buahnya, beberapa bos perusahaan BUMN juga tak segan melakukan hal yang sama. Siapa saja mereka? Merdeka.com mencoba merangkumnya.

Dirut ASDP

PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) dulunya masuk daftar perusahaan pelat merah yang terus merugi. Belakangan, ASDP mendapat sorotan karena perubahan yang dilakukannya. Terakhir, ASDP mendapat penghargaan dalam keberhasilannya dalam pelayanan arus mudik Lebaran 2012.

Sosok Direktur Utama ASDP Danang Baskoro berada di balik itu semua. Tak mau kalah dengan bos-bos BUMN lainnya, dia juga mengklaim telah melakukan beberapa perubahan dalam perusahaan. Salah satunya, Danang mengaku tak segan memecat ketua serikat pekerja walaupun akhirnya justru Danang yang kena batunya.

"Memecat seorang serikat pekerja saya dipanggil DPR 9 kali. Saya dilaporkan ke Pak Dahlan. Itu karena culture padahal bonus saya kasih sampai 20 gaji dan gaji udah saya naikkan. Namun dua tahun saya menjabat semuanya sudah berubah," kata Danang dalam acara BUMN Award di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (30/10).

Dia juga mengklaim tidak segan-segan merotasi 55 pejabat di lingkungan ASDP. "Pertama kali saya menjabat dua tahun lalu, saya mapping saya rotasi 53 orang pejabat dalam satu waktu. Praktik yang ada banyak yang tidak benar," ujarnya.

Dirut RNI

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro, menceritakan pengalamannya memimpin perusahaan BUMN. Saat didaulat memegang tongkat komando RNI, Ismed menyebut perusahaan pelat merah tersebut merugi sekitar Rp 68 miliar.

Dengan kondisi itu, Ismed langsung memecat 35 direktur dan komisaris. Dia mengklaim, keputusannya itu dilakukan untuk memajukan perusahaan.

"Banyak yang saya lakukan termasuk ke anak perusahaan dengan mengganti 35 orang direktur dan komisaris. Walaupun saya tahu mereka banyak kekuatan di belakangnya. Itu menjadi saya memudahkan transformasi di RNI," kata Ismed dalam acara BUMN Award di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (30/10).

Dirut KAI

Sosok lain yang bertangan dingin adalah Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI), Ignatius Jonan. Dia mengaku telah puluhan kali memecat anak buahnya setingkat kepala regional ataupun kepala stasiun. Dari pengakuannya, langkah itu diambil karena anak buahnya tidak becus dalam bekerja.

Jonan menuturkan, kepala regional sudah mengantongi gaji Rp 30 juta sebulan. Dengan besarnya gaji tersebut, maka tidak boleh ada kesalahan dalam memberikan pelayanan.

"Dibayar mahal kok. Zaman sebelum saya penghasilannya kecil. Sekarang penghasilannya besar hampir Rp 30 juta sebulan," kata Jonan di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (28/10) malam.

Jonan menceritakan pernah memecat seorang kepala regional karena AC kereta yang beroperasi tidak menyala. Jonan sudah memperingatkan masalah itu, namun tetap dibiarkan tanpa ada perbaikan.

Rekomendasi