Pemerintah Dinilai Tepat Beri Subsidi Pertalite dkk

Selasa, 9 Agustus 2022 14:17 Reporter : Sulaeman
Pemerintah Dinilai Tepat Beri Subsidi Pertalite dkk SPBU Abdul Muis. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Katarina Setiawan menilai, efektif upaya pemerintah untuk meredam laju inflasi melalui kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Per Juli 2022, tingkat inflasi Indonesia mencapai 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy).

"Keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM Bersubsidi dapat membuat inflasi inti tahun 2022 tetap terjaga di kisaran rentang target BI 2 persen sampai 4 persen," kata dalam konferensi pers virtual Market & Economic Outlook 2022 di Jakarta, Selasa (9/8).

Katarina menyampaikan, komitmen pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi tak lepas dari meningkatnya penerimaan negara dari ekspor komoditas energi. Mengingat, Indonesia merupakan salah satu negara yang menikmati keuntungan dari kenaikan harga komoditas batu bara.

Selain subsidi BBM, terjaganya laju inflasi di Indonesia juga dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Menyusul, masih terjaganya laju inflasi inti sebesar 2,63 persen.

"Indonesia masih akan berada dalam siklus pemulihan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa siklus ekonomi Indonesia berbeda dibandingkan negara maju, dan merupakan hal yang positif bagi Indonesia," tutupnya.

2 dari 2 halaman

Anggaran Subsidi Bisa Dipakai Bangun Ibu Kota Baru

bisa dipakai bangun ibu kota baru rev1

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menaruh perhatian serius pada lonjakan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) imbas kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina. Tercatat, nilai subsidi BBM mengalami pembengkakan dari Rp 152,2 triliun menjadi Rp 502,4 triliun di 2022.

Berkaca pada kondisi tersebut, Presiden Jokowi menyebut tidak ada satu pun negara di dunia ini yang mampu menanggung beban subsidi energi bagi rakyatnya. Mengingat, nilai anggaran subsidi yang digelontorkan pemerintah tersebut telah melebihi biaya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur yang diproyeksikan mencapai Rp 466 triliun.

"(Anggaran subsidi BBM) bisa dipakai untuk membangun Ibu Kota (IKN) karena angkanya sudah Rp 502 triliun. Sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini. Kalau kita tidak ngerti angka, kita tidak bisa merasakan betapa sangat beratnya persoalan saat ini," kata Presiden Jokowi dalam acara Rakernas PDI Perjuangan di Lenteng Agung.

Presiden Jokowi melanjutkan, harga BBM subsidi jenis Pertalite maupun Solar untuk setiap liter yang tersedia di SPBU milik Pertamina masih jauh dari nilai keekonomian yang berlaku saat ini. Mengingat, ada andil gelontoran dana subsidi di dalamnya.

Orang nomor satu di Indonesia ini mencontohkan, bahan bakar minyak harga BBM di RI tergolong murah dibandingkan negara lainnya. Mengingat, harga BBM Misalnya Singapura mencapai Rp 31.682 per liter, Thailand Rp 20.878 per liter, dan Jerman Rp 31.390 per liter.

"Nah, kita masih Rp 7650," tekan Jokowi.

Baca juga:
Wamenkeu Ingatkan APBN Tak Bisa Lama jadi Penahan Kenaikan Inflasi
Inflasi RI 4,9 Persen per Juli, Wamenkeu: Harga Pangan Pendorong Utama
Wamendag Soal Ekonomi Tumbuh 5,44 Persen: Terlihat Perdagangan Rakyat Terus Meningkat
Rahasia Pemerintah Kendalikan Inflasi Indonesia di Titik Rendah
Pengaruh Mahalnya Harga Tiket Pesawat ke Inflasi Indonesia
Kenaikan Inflasi Indonesia Dipicu Gangguan Distribusi Bahan Pangan
Kenaikan Harga Tiket Pesawat Tak Banyak Pengaruhi Inflasi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini