Pemerintah diingatkan hati-hati respons arus globalisasi

Selasa, 10 Juli 2018 15:11 Reporter : Idris Rusadi Putra
Pemerintah diingatkan hati-hati respons arus globalisasi Mari Elka Pangestu. Istimewa ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah pengamat dan praktisi ekonomi yang dulu pernah mengambil kebijakan di pemerintah kembali memberikan masukan dan kritik terhadap jalannya pengambilan kebijakan negara dalam empat tahun terakhir. Masukan tersebut dituangkan dalam sebuah buku yang membahas pengalaman Indonesia dalam menghadapi pertentangan antara globalisasi, nasionalisme dan kedaulatan di masa lalu, saat ini dan kedepan, terutama dalam kancah perubahan dunia resmi diluncurkan.

Buku yang diterbitkanan Insitute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dengan judul Indonesia and the New World: globalization, nationalism and sovereignty dengan penyunting Arianto A. Patunru (ANU), Mari Pangestu (FEBUI) dan M. Chatib Basri (FEBUI) ini memuat sejumlah tulisan dari ahli Indonesia dan internasional yang menganalisa isu-isu ini dari kaca mata ekonomi, sosial, politik, dan keamanan yang pernah dipresentasikan pada saat konferensi tahunan, Indonesia Update yang ke-35 di Australian National University (ANU).

"Berbagai pandangan dalam buku ini dapat melahirkan inspirasi dan memperkaya sudut pandang kita dalam menganalisi masalah dan tantangan Indonesia ke depan, karena itu layak untuk mendapat perhatian baik dari kalangan pemerintah, praktisi dan akademisi," kata ekonom senior Mari Elka Pangestu.

Dalam pandangan Mari, dimensi globalisasi saat ini semakin kompleks dan rumit, seperti pisau bermata dua. Globalisasi meningkatkan akses untuk memperbaiki taraf hidup dan juga meningkatkan kepekaan. Di satu pihak, globalisasi memberi manfaat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan pendapatan per kapita dan penurunan kemiskinan.

Globalisasi tak terbendung dan bahkan menjadi semacam kebutuhan pokok sehari-hari, antara lain ketika manusia di pelbagai pelosok dunia terhubung secara instan lewat media sosial. Namun di lain pihak, globalisasi juga telah meningkatkan kepekaan suatu negara kepada berbagai guncangan dan dampak negatif globalisasi.

"Akibatnya sentimen anti-globalisasi meningkat, pemicunya antara lain pengalaman pahit akibat krisis keuangan dunia serta ketimpangan ekonomi yang semakin lebar di depan mata karena keuntungan dari globalisasi tidak merata."

Menurut Mari, kompleksitas globalisasi memunculkan pilihan-pilihan politik, yang mengejutkan, seperti terpilihnya Presiden Duterte di Filipina, Trump di Amerika Serikat, dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Manifestasi dari pilihan pilihan tersebut berujung pada kebijakan-kebijakan yang umumnya cenderung lebih bersifat populis dan isolasionis sebagai upaya melindungi diri dari dampak globalisasi dan atas nama kedaulatan.

Dalam beberapa hal, fenomena ini juga terasa di Indonesia. Berbagai kebijakan serta diskursus publik diwarnai oleh semangat anti-globalisme. Dalam hal ekonomi, proteksionisme dan nasionalisme kembali meningkat dan penolakan atas ‘pengaruh asing’ dimanifestasikan ke dalam kebijakan seperti pelarangan impor atas nama swasembada, dan restriksi di bidang investasi. Respons 'melindungi' seperti ini tidak dapat disalahkan, karena memang ada sisi gelap dari globalisasi seperti kepekaan terhadap guncangan ekonomi, perdagangan manusia, penistaan pekerja migran, fake news, dan sebagainya.

"Namun seyogyanya berbagai pengalaman itu mengharuskan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam merespons globalisasi agar mendukung desain kebijakan yang lebih tepat untuk menjawab isu yang muncul. Pencapaian swasembada pangan misalnya, tidak harus diartikan melarang impor sama sekali. Artinya, pendekatan untuk menencukupi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang terjangkau, termasuk dengan pengelolaan impor agar stok dalam negeri cukup dan harga stabil juga perlu ditekankan. Swasembada sebagai target juga perlu dibarengi peningkatkan produktivitas dan produksi dalam negeri sehingga mengurangi kepekaan terhadap guncangan eksternal, seperti kenaikkan harga pangan yang dialami di 2008," kata Mari

Buku ini berisi pandangan beberapa peneliti terkemuka yang membahas berbagai isu penting seputar globalisasi, nasionalisme dan kedaulatan di Indonesia. Tulisan dalam buku ini mencakup sejarah keterlibatan Indonesia dengan dunia internasional, posisi Indonesia dalam konflik Laut Cina Selatan, serta merebaknya kembali nasionalisme di bidang ekonomi dan keamanan.

Buku ini juga membahas dampak globalisasi terhadap kemiskinanan dan ketimpangan, nasib buruh dan serta kesejahteraan masyarakat pada umumnya, terutama kaum perempuan. "Buku ini cukup komprehensif dalam mengupas berbagai pengalaman menghadapi globalisasi," kata Mari Pangestu. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini