Pandemi Mereda, Penjualan Mesin Tempel untuk Nelayan Naik 10 Persen

Sabtu, 26 November 2022 16:00 Reporter : Siti Ayu Rachma
Pandemi Mereda, Penjualan Mesin Tempel untuk Nelayan Naik 10 Persen nelayan. nelayan

Merdeka.com - PT Karya Bahari Abadi atau KBA Yamaha Marine mencatat penjualan unit mesin tempel hingga Oktober 2022 meningkat hingga 10 persen. Capaian ini seiring dengan pulihnya ekonomi setelah 2 tahun terakhir terdampak pandemi covid-19.

"Penjualan meningkat bila dibandingkan dengan 2 tahun ke belakang, saat pandemi muncul di Indonesia," kata General Manager Product & Sales, Sulolipu Djamil Kobong di Jakarta, Jumat (25/11).

Terkait dengan aktivitas purna jual, ketersediaan spare parts dan pelumas Yamalube Marine yang sempat terdampak dengan shortage produksi pun mengalami peningkatan. "Dengan ini KBA Yamaha Marine berharap dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pengguna mesin tempel Yamaha di Indonesia," imbuhnya.

Sebagai Langkah untuk semakin meningkatkan pelayanannya untuk seluruh masyarakat Indonesia, KBA Yamaha
Marine, menambah kantor cabang terbaru di wilayah Jawa Tengah, tepatnya di Cilacap.

"Kehadiran kami di Cilacap ini menjadi salah satu bukti dari rencana kami pada tahun 2022 dalam memberikan pelayanan terbaik untuk para pengguna produk-produk Yamaha Marine di Indonesia," jelasnya.

Dengan adanya Cabang Cilacap ini dia berharap bisa menjawab setiap kebutuhan masyarakat Indonesia. Terlebih lagi setelah masa pandemi ini, kondisi industri kelautan di Indonesia semakin membaik dan kami siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

2 dari 2 halaman

Prospek Industri di Tahan Air

Menteri Investasi Indonesia, Bahlil Lahadalia mengakui terjadi penurunan produktivitas di sektor industri padat karya. Namun, dia menilai penurunan tersebut masih bisa ditoleransi.

"Selama buka di Republik Indonesia ok ok saja, penurunan yes tapi masih toleransi lah," ujar Bahlil di Bali, Senin (14/11).

Dia mengaku sempat bingung dengan narasi PHK terhadap buruh di Jawa Barat. Sebab, pabrik tersebut nyatanya menutup pabrik di Jawa Barat dan kemudian membuka pabrik di Jawa Tengah. Menurutnya, ada beberapa pertimbangan terhadap langkah pabrik tersebut, seperti harga operasional yang tinggi di Jawa Barat.

"Mungkin di sana cost operasional tinggi karena industri padat karya tidak pakai teknologi tingkat tinggi, profit dia tergantung dari capex kalau capex sudah tinggi dia akan tutup mencari capex yang lebih rendah. Di Jawa Tengah kebetulan upah murah," jelasnya.

Dia menekankan, selama pabrik tersebut tidak membuka operasional di luar negeri, hal tersebut tidak perlu menjadi kondisi yang mengkhawatirkan.

[idr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini