Menghitung Harga Wajar BBM Non-Subsidi, Pertamax Harusnya Dijual Berapa?

Senin, 21 Maret 2022 16:26 Reporter : Idris Rusadi Putra
Menghitung Harga Wajar BBM Non-Subsidi, Pertamax Harusnya Dijual Berapa? SPBU. Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Harga minyak dunia terus merangkak. Salah satu penyebab harga minyak dunia semakin mahal adalah perang Rusia-Ukraina. Saat ini harga minyak sudah di atas USD 110 per barel. Tingginya harga minyak mentah berdampak pada harga produk atau Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi mengatakan bahwa pemerintah juga telah menetapkan batas atas harga jual jenis BBM umum RON 92 sejenis Pertamax untuk bulan Maret 2022 sebesar Rp14.526 per liter.

Harga tersebut merupakan cerminan dari harga keekonomian BBM berdasarkan formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM Umum. Harga Jual BBM RON 92 di SPBU saat ini bervariasi tergantung para Badan Usaha.

"Yang pasti saat ini semua SPBU menjual RON92 di bawah harga batas atas tersebut, di berbagai SPBU tercatat kisaran Rp 11.000-14.400 per liter, kecuali Pertamina saat ini masih menjual RON 92 atau Pertamax cukup rendah sebesar Rp
9.000 per liter," jelas Agung.

"Untuk harga BBM jenis umum memang ditetapkan badan usaha, yang penting tidak boleh melebihi batas atas yang ditetapkan yaitu Rp. 14.526 per liter untuk Maret 2022," tambahnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menilai tepat jika harga BBM non-subsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar karena penggunanya adalah kalangan mampu yang memiliki daya beli kuat. Apalagi setelah pandemi Covid-19, daya beli antara kelompok masyarakat atas dan bawah makin melebar.

"Penaikan harga BBM nonsubsidi juga tidak akan mengganggu indikator ekonomi makro," ujar Mohammad Faisal dikutip dari Antara.

Tren harga minyak mentah dunia yang berada di atas level USD 110 per barel dan harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar USD 114,77 per barel hingga 17 Maret 2022, berdampak pada harga produk bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Faisal, bila dilihat dari proporsi penggunaannya, BBM non-subsidi tidak besar. Paling banyak penggunanya dan subsidi terutama adalah Pertalite, kendati BBM dengan kadar oktan 90 ini tidak termasuk dalam BBM penugasan.

2 dari 2 halaman

Harga Pertalite Tidak Naik

Pemerintah sudah berketetapan untuk menjaga harga BBM Pertalite sebesar Rp7.650 per liter, namun untuk bahan BBM non-subsidi seperti dengan kadar oktan (RON) 92 diserahkan kepada badan usaha apalagi harga keekonomiannya kini sudah lebih dari Rp14.000 per liter.

"Inflasi BBM itu dipengaruhi terutama dari konsumsi Pertalite yang penggunaan lebih banyak dan mempengaruhi juga ke harga lain terutama sembako. Kalau Pertamax beda. Distribusi barang kan tidak pakai BBM Pertamax," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Faisal setuju jika BBM RON 92 ke atas tidak perlu disubsidi agar mengurangi beban pemerintah. Apalagi pada 2022, Pertamina sudah menaikkan harga BBM nonsubsidi yang kadar oktannya di atas Pertamax seperti Pertamax Turbo, Pertadex, dan Dexlite.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga memberikan dukungan kepada Pertamina untuk menyesuaikan harga BBM jenis Pertamax seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini sejalan dengan batas atas harga jual jenis BBM umum RON 92 untuk Maret 2022 sebesar Rp14.525 per liter. [idr]

Baca juga:
Pertamina Janji Tetap Salurkan BBM dan Elpiji Meski Situasi Sulit
Tak Ada Penyesuaian Harga Pertamax, Apa Dampaknya untuk Pertamina?
Cara agar Subsidi BBM Tepat Sasaran di Tengah Tingginya Harga Minyak Dunia
Menengok Pengaruh Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi ke Daya Beli
Kenaikan Harga Minyak Jadi Momentum Gunakan BBM Kualitas Tinggi
Pertamax Jadi BBM Termurah Dibanding Produk Sejenis, Berpeluang Naik?

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini