Lamban proyek panas bumi
Merdeka.com - Dua orang ahli geologi jebolan Institut Teknologi Bandung, terus berkeliling sumur-sumur di Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Derajat, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dua orang tersebut, bagian dari 400 orang, ahli yang biasa mencari dan mengebor sumur panasbumi yang ada di Indonesia.
Kegiatan eksplorasi panas bumi di Indonesia, pertama kali dilakukan 1972 oleh Direktorat Vulkanologi dan Pertamina. Dari hasil survei Indonesia terdapat 217 prospek panas bumi, di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan membelok ke arah utara melalui Maluku dan Sulawesi.
Dalam survei lanjutan, beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek, yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek di Nusa Tenggara, 3 prospek di Papua, 15 prospek di Maluku, serta 5 prospek di Kalimantan.
Tetapi, sampai saat ini pengembangan Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi yang hampir tidak menimpulkan polusi atau emisi gas rumah kaca, masih mentok. Indonesia baru memiliki beberapa titik PLT Panasbumi, diantaranya di Derajat, Garut, Kamojang, dan Patuha Kabupaten Bandung, Gunung Dieng, Jawa Tengah, Serta Lampung. Hasil eksplorasi pendahuluan mengindikasikan adanya 255 geothermal area di Indonesia yang sangat potensial untuk pembangkit listrik.
"Kalau mau mengejar target, ahli geologi juga harus bertambah. Saat ini yang ada perusahaan rebutan ahli. Dengan besarnya potensi sumberdaya yang ada dan roadmap untuk dapat mencapai 6000 MW ditahun 2020, kita masih kekurangan sumber daya manusia untuk menunjang kegiatan tersebut," ujar Ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia Abadi Poernomo di Kementerian ESDM, Pekan lalu.
Indonesia saat ini, menempati posisi ketiga setelah Amerika dan Filipina dalam hal pemanfaatan panas bumi untuk sumber energi listrik. Dari total potensi panas bumi di Indonesia sebesar 28.617 megawatt, baru 1.341 megawatt yang sudah termanfaatkan. Amerika sendiri saat ini memiliki 3093 megawatt dan Filipina di posisi kedua sebesar 1904 megawatt. "Pemanfaatannya masih kecil-kecil. Di Italia sudah beroperasi selama 103 tahun," ujarnya.
Dia mengatakan lambatnya pengembangan panas bumi di Indonesia terkait banyak faktor, selain risiko pengeboran yang belum tentu menghasilkan, perizina di Indonesia masih berbelit, karena utamanya wilayah kerja panasbumi (WKP) yang melewati kawasan hutan konservasi ditambah persoalan return yang rendah.
Dia mencontohkan PT Supreme Energy Muara Laboh yang sudah mengebor 6 sumur. Tetapi, dari enam sumur tersebut, yang sukses hanya 1 sumur. Padahal, proyek panasbumi membutuhkan jangka waktu yang lama antara tujuh sampai delapan tahun. "Masa itu investor harus terus mengeluarkan dana. Tidak ada pendapatan sama sekali," katanya. Untuk mengejar ketertinggalan pengembangan panas bumi, API berharap, pemerintah segera mengeluarkan izin dan lelah wilayah kerja.
Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Tisnaldi mengakui banyak kendala untuk pengembangan panas bumi, terutama terkait proses perizinan, tumpang tindih lahan, dan negosiasi kontrak. "Kontrak panasbumi kami tetapkan 35 tahun, dengan waktu eksplorasi bisa mencapai 5 tahun," katanya.
Salah satu perusahaan pengembang panas bumi, Chevron Indonesia mengklaim pihaknya telah melakukan investasi sebesar USD1 miliar untuk pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan, terutama geothermal di dalam negeri.
General Manager Policy, Government and Public Affairs, Chevron Geothermal and Power Paul E. Mustakim mengklaim perusahaannya saat ini menguasai 26 persen lapangan panas bumi dunia. Di Indonesia, Chevron telah menghasilkan 647 megawatt yang tersebar di wilayah Sukabumi dan Garut. "Kami mulai melakukan penelitian sejak 1984 di Indonesia," katanya. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya