Kadin incar investasi di Laos untuk jadi hub Indonesia ke pasar ASEAN dan China

Kamis, 12 Oktober 2017 19:32 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Kadin incar investasi di Laos untuk jadi hub Indonesia ke pasar ASEAN dan China Presiden Jokowi menyambut PM Laos Thongloun Sisoulith di Istana Bogor. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bekerja sama dengan Laos National Chamber of Commerce and Industry (LNCCI) menggelar Indonesia-Laos Business Forum. Acara ini dihadiri Perdana Menteri (PM) Laos, Y.M Thongloun Sisoulith beserta delegasi pengusaha Laos yang berjumlah 38 orang dari berbagai sektor usaha.

Delegasi Laos terdiri dari pelaku usaha di sektor perdagangan dan investasi, industri makanan dan minuman, pertambangan, logistik, real estate, konstruksi, pembangkit listrik tenaga air, agribisnis, furnitur, layanan ICT, karet, migas, perbankan, pendidikan, otomotif hingga perhotelan.

Dalam kesempatan ini Kadin yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Wakil Ketua Umum Kadin Laos (LNCCI), Daovone Phachanthavong. Kedua belah pihak bersepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi diantara Indonesia dan Laos. Tak hanya itu, kedua belah pihak juga bersepakat untuk bekerja sama mendukung dan memajukan UKM di kedua negara.

Benny mengatakan, Laos merupakan negara kecil sehingga belum bisa dijadikan target pasar. Akan tetapi, Indonesia bisa menanam investasi dan Laos bisa menjadi penghubung Indonesia dengan beberapa negara lain di Asia.

"Kalau market kecil ya populasinya cuma 7 juta orang. Kalau mau, link ke negara sekitar bisa ke Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan China. Itu bisa bikin production hub di sana (Laos)," kata Benny, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (12/10).

Benny mengumpamakan, Indonesia bisa menjual suatu produk ke negara lain yang proses produksinya dilakukan di Laos. Sebab, bahan-bahan industri sebagian besar berasal dari China dan Laos lebih dekat dengan China sehingga bisa memangkas biaya distribusi.

"Kalau mau jual barang ke Vietnam, Kamboja, Myanmar diproduksi di sini, lebih baik diproduksi di sana (Laos). Karena UMRnya hanya 110 dolar termasuk murah, sewa tanahnya 1 meter cuma 50 sen dolar per tahun. Bahan baku juga kita banyak impor dari China. Nah dia dari China lebih dekat, pakai truk saja bisa," ujarnya.

Saat ini, lanjut Benny, yang paling dibutuhkan di Laos adalah industri semen dan pupuk. Selain itu, dia mengatakan pihaknya akan melakukan observasi langsung ke Laos untuk mengetahui sektor apa saja yang bisa dijadikan ladang bisnis di Laos.

"Harus bisnis mission ke sana. Sebaiknya ada partner ke sana. Ini baru ketemu, ini akan didalami dengan Laos di sana." [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini