Ini Dia Sosok di Balik Pembuat Piala Bertabur 5.000 Berlian 'Lagi-Lagi Tenis'
Merdeka.com - Acara Lagi-Lagi Tenis bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sportainment turnamen tenis ini dimeriahkan para artis papan atas. Beberapa artis yang telah memenangkan pertandingan ini adalah Raffi Ahmad, Dion Wiyoko, Luna Maya, dan Nia Ramadhani.
Para pemenang dari pertandingan ini akan membawa pulang piala bergilir bertabur 5.000 berlian seharga Rp2 miliar. Piala ini disebut Unconditional Love Trophy yang merefleksikan semangat memberi cinta tak terbatas untuk masyarakat Indonesia salah satunya lewat program Lagi-Lagi Tenis. Berlian adalah simbol cinta yang universal seperti tenis.
©2023 Merdeka.com
Piala tersebut hasil kolaborasi Founder Rans Entertainment, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dengan Passion Jewelry. Unconditional Love Trophy ini juga jadi pengingat agar memberikan self-love and self-appreciation lewat olahraga.
Nama Passion Jewelry sendiri tak asing bagi masyarakat penggemar berlian. Bahkan, kisah pemilik Passion Jewelry, Airyn Tanu juga sangat menginspirasi banyak orang.
Dalam tayangan di cahnnel youtube Passion Jewelry, Airyn menceritakan bagaimana usahanya membangun Passion. Banyak orang yang mengira bahwa Airyn berasal dari keluarga kaya, sehingga bisa memberikan modal untuk membangun bisnis perhiasan.
"Banyak yang bertanya apakah Airyn Tanu meneruskan usaha orangtua atau dimodalkan dengan jumlah yang besar oleh orangtua. Tapi aku tuh bukan seorang anak konglomerat," kata Airyn dikutip Channel Youtube Passion Jewelry.
Airyn lahir di tahun 1981, yang merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Setelah lulus SD di usia 13 tahun, dia dikirim ke Perth, Australia oleh orangtuanya. Di sana dia bekerja paruh waktu untuk mengisi kekosongan waktunya. Berbagai profesi pekerjaan dia coba, mulai dari waitress hingga office girl.
"Karena orangtua tidak ada, jadi saya setelah pulang sekolah memilih bekerja part time jadi waitress, saya juga pernah kerja jadi office girl, saya juga kerja jadi kasir di satu toko oriental. Tapi saya lebih suka jadi waitress sih. Karena saat saya pulang saya selalu dibawain makanan, anggap saja itu jadi makan malam saya," katanya.
Selain bekerja paruh waktu untuk mengisi kekosongan, Airy juga mencari pengalaman. Dirinya mengaku banyak mendapat pelajaran saat bekerja paruh waktu.
"Contohnya, saat pertama kali saya menjadi waitress, saya itu tidak mahir, tidak cekatan. Jadi waktu itu saya pernah menyuguhkan Wine ke customer lalu saya pecahkan gelasnya. Waktu itu bos saya marah lalu dia maki-maki saya di depan customernya. dan saya langsung dipecat saat itu juga. Rasanya sedih banget sih waktu itu," ungkap Airyn.
Dari pengalaman tersebut, dia belajar dari segala apapun, dalam mengerjakan sesuatu harus benar dan serius. Prinsip hidupnya adalah ingin mandiri meski masih berusia remaja. Dia tidak ingin mengandalkan apa yang diberikan oleh orangtuanya, namun dia juga ingin mendapatkan apa yang dia inginkan dari usahanya sendiri.
Dia juga bercerita bahwa dirinya pernah salah mengambil bidang sekolah. Airyn dulu mengambil bidang studi Computer System and Enginering. Padahal, passion-nya ada di bidang perhiasan.
"Jadi setelah aku lulus dari kuliah, aku mulai membuka bisnis perhiasan dengan partner aku. Karena kami mengikuti passion kami," jelasnya.
Kehidupan Percintaan dan Awal Mula Bisnis Perhiasan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAiryn pun bercerita awal mula bertemu dengan suaminya saat mereka masih duduk di bangku kuliah. Menurutnya, sang suami adalah seseorang yang berperan penting dalam hidupnya. Karena, suaminya bukan hanya menjadi rekan bisnis, namun juga menjadi teman hidupnya.
"Jadi waktu itu kami lulus kuliah bersama. Kami baru berusia muda. Kami memilih berjualan perhiasan dengan modal yang apa adanya. Kami mulai berjualan dengan koneksi pertama kami dari orangtua. Sampai saya dan calon suami saya berjualan door to door. Menawarkan perhiasan yang kami beli dengan modal seadanya dan mencoba dijualkan lagi," kata Airyn.
Mereka pun menikah di akhir 2004. Di tahun berikutnya, mereka memutuskan membuka toko perhiasan pertama di Metropolis Town Square, Tangerang, Banten.
"Waktu itu suami saya masih keluar kota untuk berjualan door to door. Sedangkan aku yang hamil setelah 5 bulan menikah, hanya stay di toko dengan 1 pegawai saja. Setelah melahirkan, anak saya juga saya bawa ke toko."
Kemudian, di tahun 2006 dengan bermodalkan nekat, Airyn dan suami membuka toko perhiasan impian mereka dengan konsep yang lebih matang. Di situlah lahir Passion Jewelry yang pertama. Nama produk ini sesuai dengan apa yang mereka percaya terhadap produk dan bisnis yang mereka jual.
Di tahun 2013, di saat Airyn dan suami membuka butik perhiasan ke-3, mereka memutuskan untuk menjadi koporasi dengan struktur, branding, visi, dan misi yang lebih baik dan sangat jelas.
"Karena tidak mungkin lagi saya dan suami hanya duduk di satu toko. Dan baru di tahun 2013, kami mulai serius mengembangkan branding terhadap produk kami. Selain itu, kami menentukan warna dari korporasi kami yaitu warna fuchsia," jelasnya.
"Kenapa kami baru memulai branding di tahum 2013? Karena memang pada saat itu, kami baru memiliki modal untuk branding. Dan kami juga sedang membangun koporasi. Bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk generasi mendatang."
Salah satu gebrakan yang dilakukan adalah mengadakan pameran dengan menyewa seluruh atrium di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta. Airyn juga berkolaborasi dengan beberapa artis ternama di Indonesia. Seperti Agnes Monica, Syahrini, Bunga Citra Lestari, Krisdayanti, dan Ivan Gunawan yang akhirnya menjadi sahabatnya.
Prestasi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPassion Jewelry juga merupakan brand berlian pertama di Indonesia yang memperkenalkan konsep O2O yang juga disebut sebagai omni channel. Yaitu mengabungkan butik online dengan offline.
Di bawah naungan PT PAssion Abadi Kopora, Airyn menaungi 3 brand. Pertama, Passion Jewelry yang menyasar pelanggan kelas menengah ke atas. Kedua, Passio Prive yang menyasar kalangan high end. Ketiga, Diamond & Co yang menyasar target generasi muda.
"Persamaan dari brand kami adalah kami berorientasi terhadap keinginan pelanggan. Bersamaan dengan itu, kami memperkuat juga memperbarui teknologi dan mesin produksi yang kami miliki sehingga bisa mendukung semua kebutuhan Butik Passion," kata Airyn.
Sebagai brand perhiasan terpercaya di Indonesia, Passion menjadi brand pertama yang memiliki mesin pendeteksi berlian sintetis. Di mana belum banyak pelanggan bahkan penjual berlian di Indonesia yang sadar bahwa belian sintetis sudah menyebar di seluruh pasar Asia. Dan tidak menutup kemungkinan sudah masuk Indonesia.
Dia juga gencar melakukan ekspansi dengan menambah sejumlah butik tidak hanya di mal terkemukan di Jakarta, tapi juga di luar kota. Hingga saat ini, Butik Passion berkembang menjadi 10 butik.
"Salah satu capaian membanggakan bagi kami, ketika kami dipercaya membuat mahkota untuk Miss Grand Indonesia yang merupakan hasil kolaborasi dengan Perancang Aksesoris, Rinaldy Yunardy. Dan mahkota ini kami namakan The Heart of Indonesia, yang merupakan mahkota satu-satunya yang menggunakan emas dan berlian untuk pemilihan kontes kecantikan," jelas Airyn.
Di tahun 2018, Passion membuka 3 butik baru. Untuk menjawab pertumbuhan yang cepat, dia juga membangun pabrik dengan kapasitas produksi yang jauh lebih besar dari sekarang. Dia juga ingin mengundang masyarakat untuk tour ke dalam pabrik Passion.
"Jika dulu saya memberikan segala yang saya punya untuk membangun Passion. Sekarang, Passion memberikan hadiah terindah dengan mengumpulkan orang-orang terkasih di momen spesial saya," tutupnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya