Indonesia akan Belajar dari Malaysia Soal Pengelolaan Keuangan Syariah

Kamis, 14 November 2019 17:06 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Indonesia akan Belajar dari Malaysia Soal Pengelolaan Keuangan Syariah Sri Mulyani. ©Instagram Sri Mulyani

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, Indonesia akan belajar dari Malaysia dalam mengelola ekonomi syariah. Malaysia dinilai telah lebih dulu sukses di bidang ekonomi syariah.

"Indonesia akan belajar dari Malaysia bagaimana mereka berhasil," kata dia, dalam acara ISEF 2019, di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (14/11).

Dia menjelaskan, saat ini industri halal dan ekonomi syariah terus tumbuh dan berkembang. Seiring dengan perbankan dan keuangan syariahnya, tak terkecuali di Indonesia.

Akan tetapi, menurutnya konsep syariah tidak terlalu booming di Indonesia meskipun menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim

"Indonesia sedikit terlambat dan kita baru saja memberlakukan undang-undang soal perbankan syariah pada 1981 an dan sukuk global syariah diberlakukan 10-15 tahun lalu. Sementara asuransi syariah baru beberapa bulan dilakukan," ujarnya.

Kendati demikian, meskipun terlambat dia optimis Indonesia bisa sukses seperti Malaysia. "Walaupun terlambat, sudah memulai proses ini, Instrumen syariah di Malaysia bisa dipelajari. Misalnya melihat bagaimana fokus investasi dan instrumen sosial seperti zakat dan wakaf di masyarakat," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Produk Keuangan Syariah

Artinya, akuntabilitas pengelolaan zakat dan wakaf di Indonesia juga harus ditingkatkan. Hal ini tentunya akan dikerjakan oleh Kemenkeu bersama dengan Bank Indonesia (BI) untuk menambah kepastian dengan kebijakan agar impact sektor keuangan syariah bisa lebih besar untuk dimanfaatkan.

Dia mengungkapkan, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan minat masyarakat Indonesia untuk penjualan sukuk syariah terbesar di dunia. Namun tak banyak masyarakat Indonesia yang membeli, justru dibeli dari luar negeri.

"Kami memberikan edukasi dan memberikan kepastian dan membeli instrumen untuk mereka, tanpa keruwetan dan kesulitan pembahasannya," ujarnya.

Misalnya dengan produk sukuk ritel agar kaum milenial bisa memahami dengan mudah instrumen investasi syariah. Lalu sukuk berbasis lingkungan melalui green sukuk.

Dengan produk-produk yang mudah dipahami, kualitas syariah diharapkan bisa meningkat. Sehingga klaim risiko tinggi, harga mahal, tidak efisien bisa dihilangkan. [azz]

Baca juga:
Banyak Peminat, Industri Makanan Halal Punya Potensi Paling Besar
Percepat Pertumbuhan Keuangan Ekonomi Syariah, Ini Rekomendasi Bos BI
Bos BI: Teknologi Digital Bisa Percepat Keuangan Syariah
Peran Bank Indonesia dalam Meningkatkan Ekonomi Syariah
Ma'ruf Amin Minta Indonesia Jadi Produsen Produk Halal

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini