Indikasi Industri Manufaktur Merosot di Era Reformasi

Jumat, 21 Februari 2020 13:43 Reporter : Anisyah Al Faqir
Indikasi Industri Manufaktur Merosot di Era Reformasi Dirut Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno. ©handout/Ngopi BUMN

Merdeka.com - Industri manufaktur Indonesia terus menurun sejak era reformasi. Dalam 20 tahun terakhir, penurunan ini sejalan dengan tren defisit neraca perdagangan Indonesia yang makin besar.

Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Fajar Harry Sampurno mengatakan, salah satu alasan penurunan ini karena banyak investasi yang masuk ke Indonesia dalam bentuk paketan, di mana investor mengerjakan proyek menggunakan peralatan dan mesin yang didatangkan dari negara asal investor.

"Ini datangnya secara impor utuh," kata Fajar, di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Jumat (21/2).

Kondisi ini dimulai sejak tahun 2000-an. Berbeda dengan masa sebelum reformasi, industri manufaktur Indonesia pernah mengalami masa kejayaan di tahun 1990-an. Puncaknya pada tahun 1999-2002 yang berhasil menyumbang PDB sebesar 29,1 persen. Sementara pada 2019 hanya menyumbang 3,66 persen terhadap PDB.

Harry menuturkan dulu ada kewajiban investor yang berinvestasi di Indonesia untuk melakukan produksi di Indonesia. Hal tersebut tak lagi terjadi setelah era reformasi.

1 dari 1 halaman

Investor Asing Melakukan Produksi di Indonesia

Untuk itu, dia menginginkan ada kewajiban bagi investor asing untuk melakukan produksi di Indonesia. Seperti yang dilakukan industri pertahanan, minimal investor melakukan proses produksi 35 di Indonesia. Sehingga, kelebihan produksi yang dibutuhkan bisa diekspor ke luar negeri.

Hal itulah yang membuat beberapa pabrik Barata Indonesia banyak yang tutup sejak tahun 2002 lantaran tak ada permintaan. Namun begitu, produk manufaktur Barata banyak di ekspor ke negara Amerika dan sebagian Meksiko. Salah satu produk unggulan Barata, yaitu bogie. Hampir 80 persen diekspor ketiga negara tersebut.

"Kita dua minggu sekali ekspor bogie," ucap Harry.

Begitu juga ekspor kontruksi untuk turbin yang banyak di kirim ke Taiwan, Sudan, UEA, Arab Saudi. Hasil produksi Barata 90 persen dikirim ke negara-negara tersebut. "Semua negara pakai produk Barata, kecuali kita. Indonesia ini lucu," kata Harry mengakhiri. [azz]

Baca juga:
Stahlwerk dan Vector Tawarkan Mesin Las Kualitas Eropa, tapi Harga Rupiah
Ombudsman: Bila Saham PGN Turun, BPJS Ketenagakerjaan Merugi
Kemenperin Targetkan Pertumbuhan Industri 8 Persen, Incar Investasi Besar
Genjot Penyerapan Tenaga Kerja, DPR Kawal Program Pembangunan Industri RI
Kadin Pertanyakan Pertumbuhan Industri Manufaktur Menurun di 2019

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini