Harga Energi Dunia Melonjak, Keuangan Pertamina & PLN Terancam Jebol

Kamis, 19 Mei 2022 17:10 Reporter : Anisyah Al Faqir
Harga Energi Dunia Melonjak, Keuangan Pertamina & PLN Terancam Jebol Pertamina. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Konflik Rusia-Ukraina sejak Februari 2022 makin membuat harga energi dunia melonjak. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kenaikan harga minyak dunia membuat arus kas operasional Pertamina jebol.

Per Maret 2022, arus kas Pertamina sudah negatif USD 2,44 miliar. Bila Pertamina tidak segera mendapatkan dana segar dari pemerintah, diperkirakan arus kas pada Desember mengalami defisit hingga USD 12,98 miliar.

"Akibat kenaikan ICP yang meningkat signifikan, arus kas operasional Pertamina pada Maret 2022 negatif USD 2,44 miliar," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (19/5).

Diketahui harga energi dunia terus melambung. Sementara harga BBM di dalam negeri masih dipertahankan agar tidak mengalami kenaikan. Apalagi, Pertamina masih melakukan impor BBM yang akan membuat arus kas operasional makin terkuras.

"Pertamina harus tanggung beban, kalau impor BBM pun dia harus bayar dengan dolar," kata dia.

Saat ini, Pertamina harus menanggung selisih harga keekonomian dengan harga jual BBM di tingkat konsumen. Harga minyak tanah misalnya memiliki harga jualnya Rp 2.500 per liter padahal harga keekonomiannya sudah mencapai Rp 10.198 namun Solar dijual Rp 5.450 per liter dari harga keekonomian Rp 12.119 per liter.

LPG per kilogram dijual Rp 4.250, padahal nilai keekonomiannya telah mencapai Rp 19.579 per kilogram. Sedangkan harga Pertalite dijual Rp 7.650 per liter dari nilai keekonomian Rp 12.556 per liter.

Akibatnya seluruh rasio keuangan Pertamina mengalami pemburukan yang signifikan sejak awal 2022. Hal ini pun dapat menurunkan credit rating Pertamina dan akan berdampak pada credit rating pemerintah.

Tak hanya Pertamina, Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga dihadapkan pada masalah yang sama. Kondisi keuangan PLN juga memburuk karena harga ICP dunia yang meroket namun tidak ada kenaikan atau penyesuaian tarif listrik.

Akibatnya, per 30 April 2022 lalu, PLN menari utang sebesar Rp 11,4 triliun. Tak berhenti di situ, PLN akan kembali menarik utang pada bulan Mei dan Juni. Sehingga total penarikan utang sekitar Rp 21,7 triliun sampai Rp 24,7 triliun.

"Jika tidak ada tambahan kompensasi dari pemerintah maka pada Desember 2022 diproyeksikan arus kas PLN akan defisit Rp 71,1 triliun," kata dia. [azz]

Baca juga:
Harga Komoditas Bertahan Mahal, Minyak Mentah Indonesia Dibanderol USD 102,5/Barel
Plus Minus Dampak Kenaikan Harga Komoditas Dunia pada Indonesia
Harga Minyak Melonjak Usai Uni Eropa Embargo Rusia
Harga BBM Diperkirakan Bakal Masih Mahal Hingga Tahun Depan
Pasokan dari Libya dan Rusia Turun, Harga Minyak Dunia Kembali Meroket
Harga Minyak Dunia Naik Sentuh USD 114 per Barel Dipicu Pemadaman Ladang Minyak Libya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini