Curahan hati perajin tahu tempe tercekik harga kedelai impor
Merdeka.com - Api masih tetap dibiarkan menyala di bawah sebuah tungku besar. Di dalam tungku itu hanya berisi air bekas rebusan kedelai yang akan diproduksi menjadi tahu dan tempe. Pantauan merdeka.com, tidak ada aktivitas produksi di pabrik tahu tempe di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Hampir semua karyawan di industri tahu tempe rumahan itu terpaksa diliburkan untuk sementara waktu menyusul aksi mogok produksi yang dilakukan perajin tahu tempe. Menurut Sukron (46), pabriknya mulai tidak memproduksi sejak akhir pekan lalu, Jumat (6/13) lantaran sulitnya mencari kacang kedelai.
"Dari hari jumat sudah tidak produksi tahu, karyawan diliburkan sampai hari kamis, ujarnya kepada merdeka.com, Senin (9/9).
Di pabrik rumahan miliknya, ada 10 orang yang menggantungkan hidup dari mengolah kedelai menjadi tahu dan tempe. Dengan berhentinya aktivitas produksi, otomatis para karyawannya juga tidak mendapat penghasilan.
"Mereka menganggur mas, tidak ada kerjaan lagi karena mereka rata-rata memenuhi kebutuhan hidupnya di sini," katanya.
Kekhawatirannya tidak lepas dari melonjaknya harga kedelai saat ini. Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka mogok produksi bisa berakhir pada penutupan pabrik lantaran pengusaha bangkrut.
"Mau gimana sudah harga mahal terus terus nyari kedela susah dari koperasi. Sekarang susah mas, lama-lama bisa gulung tikar kita mas tidak ada yang jual tahu dan tempe lagi nanti," keluhnya.
Sukron menuturkan, kelangkaan kedelai menyebabkan harga bahan baku tahu dan tempe itu kini mencapai Rp 9.500-10.500 per kg. Perajin tahu dan tempe berharap pemerintah tidak mengandalkan Impor kedelai lagi dan melakukan swasembada untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri.
"Pemerintah jangan main impor, jangan mau di manfaatin sama pihak Amerika, manfaatkan para petani," ucapnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya