BI Optimis Neraca Pembayaran Surplus di Kuartal II-2022

Kamis, 23 Juni 2022 16:54 Reporter : Merdeka
BI Optimis Neraca Pembayaran Surplus di Kuartal II-2022 Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap baik, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal. Di mana transaksi berjalan pada kuartal II-2022 diperkirakan mengalami surplus, melanjutkan capaian surplus pada kuartal sebelumnya.

"Perkembangan ini didukung oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan seiring kinerja ekspor pada sebagian besar komoditas utama yang tetap kuat, di tengah peningkatan defisit neraca jasa seiring dengan meningkatnya jasa transportasi perjalanan ke luar negeri," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG bulan Juni 2022, Kamis (23/6).

Sementara itu, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik mencatat net inflows sebesar USD 1,5 miliar pada kuartal II-2022 hingga 21 Juni 2022, di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2022 tercatat sebesar USD 135,6 miliar setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Kinerja NPI pada 2022 akan tetap terjaga dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran 0,5-1,3 persen dari PDB terutama ditopang oleh harga komoditas global yang tetap tinggi," ujarnya.

Kinerja NPI tersebut juga didukung neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap surplus meski lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, di tengah penanaman modal asing (PMA) yang tetap kuat sejalan dengan iklim investasi dalam negeri yang terjaga.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah mengalami peningkatan tekanan sejalan dengan mata uang regional lainnya, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. "Nilai tukar pada 22 Juni 2022 terdepresiasi 1,93 persen (ptp) dibandingkan akhir Mei 2022," ujarnya.

Depresiasi tersebut sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pasokan valas domestik tetap terjaga dan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap positif.

Dengan perkembangan ini, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 5,17 persen, Malaysia 5,44 persen, dan Thailand 5,84 persen.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
BI Optimistis RI Tumbuh 5,3 Persen 2022 Meski Ada Perang Rusia-Ukraina, ini Alasannya
Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen di 2023
Bank Mandiri Prediksi Ekonomi Kuartal II-2022 Tumbuh 5,3 Persen
Waspada, Ekonomi Global Merosot dan Ancaman PHK Mengintai
Peringkat Daya Saing Indonesia Anjlok ke Posisi 44 Dunia

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini