Beasiswa jadi salah satu cara tingkatkan daya saing SDM RI di era globalisasi
Merdeka.com - Pemerintah Jokowi-JK terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui sektor pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan menyebar beasiswa dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Presiden Jko Widodo pernah meminta investasi di sektor SDM ditingkatkan. Hal ini mengingat, kompetisi di era globalisasi semakin ketat.
"Untuk itu saya ingin menekankan bahwa investasi di bidang SDM termasuk melalui pemberian beasiswa perguruan tinggi, pendanaan riset merupakan investasi yang sangat penting bagi negara kita untuk maju di masa yang akan datang," ungkap Jokowi.
Selain meningkatkan daya saing siswa, beasiswa untuk mahasiswa ini bertujuan untuk menciptakan calon pemimpin yang baik. Beasiswa tersebut juga mengembangkan keterampilan dan kepedulian terhadap sesama.
Head Of Executive Board Tanoto Foundation, Sihol Aritonang mengatakan, seorang mahasiswa berprestasi harus disiapkan sejak awal masuk perguruan tinggi. Mahasiswa dengan kualifikasi ini adalah mereka yang memiliki kriteria sebagaimana terejawantah dalam simpulan tridarma perguruan tinggi, yakni mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik, namun juga didukung keterampilan (soft skills) hidup dan dan kepedulian terhadap sesama. "Tantangan seorang mahasiswa tentu berbeda setiap zaman. Sayangnya, banyak di antara mereka yang sejak awal memikul tanggungjawab sejarah dan peran strategis di masa depan tidak sadar dengan status kemahasiswaannya ini", ujar Sihol di Jakarta, Rabu (29/11). Realitas itulah yang mendasari Tanoto Foundation, kata Sihol, untuk merancang sebuah program, yang tak hanya memberikan beasiswa. Selain sistem monitoring dan evaluasi akademik terhadap peserta beasiswa secara teratur setiap semester, Tanoto Foundation juga membekali para peserta beasiswanya dengan berbagai kemampuan pendukung (soft skills) Agar mereka siap menjadi mahasiswa berprestasi di bidang apapun.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri mengakui keterampilan masih menjadi persoalan dalam dunia kerja Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Menurut dia, salah satu bukti kurang terampilnya tenaga kerja Indonesia dapat dilihat dari tingginya ketidakcocokan antara lulusan dengan dengan bidang kerja yang digeluti.
"Kalau soal skill. Salah satu problem ada di dunia pendidikan kita. Angka output pendidikan yang missmatch di pendidikan kita cukup besar sampai 63 persen. Artinya dari sepuluh orang hanya ada 3 sampai 4 orang yang match," ungkapnya di The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (28/11).
Untuk mengatasi persoalan ini, Hanif memandang perlu ada reformasi di sektor pendidikan, baik formal maupun informal berupa pelatihan-pelatihan yang diberikan.
"Reformasi pendidikan perlu supaya skema pendidikan maupun pelatihan kita betul-betul sesuai dengan kebutuhan industri, maka akan semakin mendekatkan investasi dengan SDM, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan," jelas dia.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya