Tanaman penghilang bau kolam lele dapat menjadi salah satu cara alami untuk membantu menjaga kondisi air tetap lebih baik. Beberapa tanaman air memiliki akar yang dapat menyerap sebagian zat terlarut, termasuk nutrien berlebih yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan.
Budi daya lele cukup banyak dilakukan, baik menggunakan kolam permanen maupun kolam terpal. Namun, salah satu persoalan yang sering muncul adalah air kolam berubah keruh dan menimbulkan bau menyengat ketika sisa pakan, kotoran, serta bahan organik menumpuk.
Keberadaan tanaman dapat membantu pengelolaan kolam, tetapi bukan berarti bisa menggantikan perawatan air. Penggantian sebagian air, pemberian pakan sesuai kebutuhan, pembersihan bahan organik, serta pengelolaan kualitas air tetap perlu dilakukan agar lingkungan kolam mendukung pertumbuhan lele, Kamis (1/10/2026).
Advertisement
Mengapa Kolam Lele Bisa Menimbulkan Bau?
Bau pada kolam lele umumnya berkaitan dengan penumpukan bahan organik. Sisa pakan yang tidak termakan akan mengendap di dasar kolam dan mengalami proses penguraian. Kotoran ikan juga menambah beban organik sehingga air semakin mudah keruh dan berbau.
Pemberian pakan dalam jumlah berlebihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Lele memang dikenal memiliki nafsu makan tinggi, tetapi bukan berarti seluruh pakan yang diberikan akan habis dimakan. Sebagian pakan dapat tersisa, terutama jika dosis tidak disesuaikan dengan jumlah dan kondisi ikan.
Daun, ranting, atau bahan organik lain yang jatuh ke kolam juga sebaiknya segera diangkat. Jika dibiarkan, bahan tersebut akan membusuk dan ikut menambah beban organik di dalam air.
Karena itu, tanaman sebaiknya dipandang sebagai bagian dari sistem pengelolaan kolam, bukan sebagai satu-satunya solusi untuk menghilangkan bau. Ketika air sudah sangat keruh atau berbau kuat, penggantian sebagian air tetap diperlukan.
1. Kangkung Air
Kangkung air termasuk pilihan yang cukup mudah diterapkan pada kolam lele skala rumahan. Tanaman ini dapat ditanam menggunakan wadah sederhana sehingga bagian akar berada di dalam air, sementara batang dan daunnya tumbuh di atas permukaan.
Akar kangkung dapat membantu menyerap sebagian nutrien terlarut dari air. Dalam sistem yang terkelola dengan baik, keberadaan akar juga dapat menjadi bagian dari proses penyaringan alami karena tanaman memanfaatkan unsur hara yang tersedia untuk pertumbuhannya.
Untuk kolam terpal, kangkung tidak harus langsung ditanam di dasar kolam. Salah satu cara yang lebih praktis adalah menggunakan gelas plastik bekas atau wadah apung yang memungkinkan akar menjuntai ke air.
Jumlah tanaman sebaiknya disesuaikan dengan ukuran kolam. Jangan sampai kangkung tumbuh terlalu lebat dan menutupi sebagian besar permukaan air. Permukaan yang terlalu tertutup dapat mengganggu pertukaran gas dan menyulitkan pengawasan kondisi ikan.
Kangkung juga perlu dipanen atau dipangkas secara berkala. Dengan begitu, pertumbuhan tanaman tetap terkendali sekaligus membantu mengeluarkan unsur hara yang sudah diserap tanaman dari sistem kolam.
Advertisement
2. Eceng Gondok
Eceng gondok sering dianggap sebagai tanaman yang mudah tumbuh di perairan. Dalam pengelolaan kolam, tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu tanaman penyerap nutrien karena akarnya berada langsung di dalam air.
Akar eceng gondok yang menjuntai dapat menjadi bagian dari lingkungan perakaran di dalam kolam. Tanaman tersebut memanfaatkan sejumlah nutrien yang tersedia untuk mendukung pertumbuhannya sehingga dapat membantu mengurangi sebagian beban nutrien di air.
Namun, penggunaan eceng gondok perlu dilakukan secara hati-hati. Pertumbuhannya dapat sangat cepat dalam kondisi yang mendukung. Jika dibiarkan memenuhi permukaan kolam, tanaman justru dapat mengganggu sirkulasi air dan pertukaran udara.
Karena itu, jangan menjadikan eceng gondok sebagai penutup seluruh permukaan kolam. Sisakan area permukaan air yang cukup terbuka dan lakukan pengurangan tanaman secara rutin ketika populasinya mulai berlebihan.
Tanaman yang sudah terlalu tua atau membusuk juga sebaiknya tidak dibiarkan kembali menjadi bahan organik di dalam kolam. Bagian tanaman yang mati justru dapat menambah beban organik dan berpotensi memperburuk kondisi air.
3. Kiambang
Kiambang merupakan tanaman air mengapung yang dapat menjadi pilihan lain untuk membantu pengelolaan kolam lele. Seperti tanaman air lainnya, keberadaannya dapat membantu memanfaatkan sebagian nutrien yang tersedia di dalam air.
Tanaman yang mengapung juga dapat memberikan sedikit naungan pada permukaan kolam. Hal ini dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari secara langsung pada sebagian area permukaan air.
Meski demikian, populasinya tetap harus dikontrol. Kiambang yang berkembang terlalu banyak dapat membentuk lapisan padat di permukaan air. Kondisi tersebut kurang baik jika sampai menghambat pertukaran udara atau menyulitkan pembudidaya memantau ikan.
Karena itu, tanaman yang berlebihan sebaiknya diambil secara berkala. Sebagian tanaman yang telah dikeluarkan juga dapat dimanfaatkan untuk kompos setelah dipastikan tidak kembali masuk ke kolam sebagai bahan organik yang membusuk.
4. Selada Air
Selada air juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pendukung dalam pengelolaan air kolam. Tanaman ini dapat ditempatkan pada bagian tertentu dari kolam sehingga akarnya bersentuhan dengan air.
Sama seperti kangkung dan tanaman air lainnya, selada air membutuhkan nutrien untuk tumbuh. Dalam sistem yang sesuai, proses tersebut dapat membantu mengambil sebagian unsur hara dari air.
Penggunaan selada air akan lebih mudah dikontrol jika tanaman ditempatkan pada area khusus atau wadah tertentu. Cara ini membuat pembudidaya lebih mudah melakukan pemangkasan dan mengangkat tanaman ketika jumlahnya terlalu banyak.
Tanaman yang sehat dapat terus dipelihara, sedangkan bagian yang menguning, mati, atau membusuk sebaiknya segera dikeluarkan. Langkah sederhana tersebut penting agar tanaman tidak berubah menjadi sumber bahan organik baru.
5. Kangkung dalam Sistem Akuaponik
Jika memiliki ruang yang cukup, kangkung dapat dikembangkan dalam sistem akuaponik sederhana. Prinsipnya adalah memanfaatkan air kolam yang mengandung nutrien untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Dalam sistem tersebut, air dari kolam dialirkan menuju area tanaman. Akar tanaman kemudian berada pada media atau aliran air yang telah dirancang untuk sistem akuaponik. Setelah melewati area perakaran, air dapat dikembalikan ke kolam sesuai rancangan sistem.
Metode ini memiliki kelebihan karena tanaman dan ikan dipelihara dalam satu ekosistem yang saling berkaitan. Nutrien yang berasal dari limbah ikan dapat dimanfaatkan oleh tanaman, sementara tanaman menjadi salah satu komponen dalam proses pengelolaan air.
Namun, akuaponik bukan berarti membuat air kolam otomatis selalu bersih. Sistem tetap membutuhkan pemantauan, termasuk terhadap aliran air, kepadatan ikan, pertumbuhan tanaman, serta kondisi air.
Untuk skala rumah tangga, sistem sederhana dapat dibuat dengan memanfaatkan wadah tanam dan jalur aliran air yang mudah dibersihkan. Dengan pengaturan yang tepat, cara ini juga dapat menjadi pilihan bagi pemilik kolam lele yang ingin memanfaatkan lahan secara lebih efisien.
Advertisement
Tanaman Lain yang Dapat Dimanfaatkan
Selain tanaman air, beberapa bahan tanaman juga pernah digunakan dalam praktik pemeliharaan kolam lele, seperti daun pepaya, daun singkong, daun turi, daun lamtoro, batang pisang, hingga Azolla microphylla.
Namun, penggunaannya tidak dapat disamakan dengan tanaman yang memang berfungsi sebagai bagian dari sistem penyaringan air. Misalnya, daun yang sengaja dimasukkan ke kolam akan mengalami proses pelapukan. Jika jumlahnya terlalu banyak, bahan organik tersebut justru dapat meningkatkan beban organik air.
Karena itu, penggunaan bahan tanaman sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kolam. Jangan memasukkan banyak daun sekaligus hanya karena ingin menghilangkan bau.
Jika tujuan utamanya adalah membantu mengendalikan nutrien dalam air, tanaman dengan akar yang berada di dalam air dan dapat dikendalikan pertumbuhannya lebih mudah dikelola.
Cara Menggunakan Tanaman agar Tidak Memperparah Bau Kolam
Memilih tanaman saja belum cukup. Pengelolaan kolam tetap menjadi bagian terpenting. Ketika air mulai berbau, pembudidaya perlu memeriksa apakah terdapat sisa pakan dan kotoran yang menumpuk.
Penggantian sebagian air dapat dilakukan sesuai kondisi kolam. Pada air yang hanya mulai berbau, sebagian air dapat diganti tanpa harus menguras kolam sampai habis. Jika air sudah sangat keruh dan kualitasnya menurun, penanganannya tentu perlu lebih menyeluruh.
Pemberian pakan juga harus diperhatikan. Hindari memberikan pakan jauh melebihi kebutuhan ikan karena sisa pakan yang mengendap dapat menjadi sumber masalah baru.
Bahan organik seperti daun yang jatuh ke kolam sebaiknya segera diambil. Jika terdapat tanaman air yang mati atau membusuk, bagian tersebut juga harus dikeluarkan.
Probiotik dapat menjadi bagian dari metode pengelolaan kolam tertentu karena mikroorganisme di dalamnya dapat membantu proses penguraian bahan organik. Penggunaannya tetap perlu mengikuti petunjuk produk atau metode budi daya yang diterapkan.
Dengan demikian, tanaman penghilang bau kolam lele sebaiknya digunakan sebagai salah satu komponen dalam pengelolaan kualitas air. Kombinasi antara tanaman, pengaturan pakan, pembersihan kolam, penggantian air, dan pengelolaan bahan organik akan lebih masuk akal dibandingkan mengandalkan tanaman saja.
Advertisement
Tanya Jawab Tanaman Penghilang Bau Kolam Lele
1. Apa tanaman yang bisa membantu mengurangi bau kolam lele?
Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan antara lain kangkung air, eceng gondok, kiambang, dan selada air. Tanaman tersebut dapat membantu menyerap sebagian nutrien dari air melalui sistem perakarannya.
2. Apakah kangkung bisa langsung ditanam di kolam lele?
Bisa, tetapi lebih mudah jika kangkung ditempatkan pada wadah atau sistem rakit apung sehingga akar dapat menyentuh air. Cara ini membuat pertumbuhan tanaman lebih mudah dikontrol dan dipanen.
3. Apakah eceng gondok bisa menghilangkan bau kolam lele?
Eceng gondok dapat membantu menyerap sejumlah nutrien dari air, tetapi bukan pengganti penggantian air dan pembersihan kolam. Jumlahnya juga perlu dibatasi agar tidak menutupi seluruh permukaan kolam.
4. Mengapa kolam lele tetap bau meskipun sudah diberi tanaman?
Bau dapat tetap muncul jika sisa pakan, kotoran ikan, dan bahan organik terus menumpuk. Tanaman hanya menjadi salah satu komponen pengelolaan air sehingga pemberian pakan yang tepat, pembersihan, dan penggantian sebagian air tetap diperlukan.
5. Apakah tanaman saja cukup untuk menghilangkan bau kolam lele?
Tidak. Tanaman dapat membantu mengelola sebagian nutrien dalam air, tetapi kondisi kolam tetap perlu dipantau. Jika air sudah terlalu keruh atau berbau kuat, langkah seperti penggantian sebagian air, pengurangan sisa pakan, pembersihan bahan organik, dan pengelolaan kualitas air tetap diperlukan.