Musim hujan memang membuat udara terasa lebih sejuk dan kelembapan meningkat, tetapi kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik tanaman monstera. Banyak orang mengira monstera tetap membutuhkan penyiraman dengan frekuensi yang sama seperti saat musim kemarau. Padahal, media tanam cenderung lebih lama menyimpan air ketika curah hujan tinggi, sehingga penyiraman berlebihan justru dapat membuat akar kekurangan oksigen dan mulai membusuk.
Akar yang membusuk sering kali tidak langsung terlihat dari luar. Gejalanya baru muncul ketika daun mulai menguning, layu, muncul bercak kecokelatan, hingga pertumbuhan tanaman melambat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan monstera kehilangan sebagian besar sistem perakarannya, sehingga tanaman sulit pulih bahkan berisiko mati. Karena itu, memahami cara menyiram yang tepat selama musim hujan menjadi salah satu kunci utama menjaga monstera tetap sehat.
Agar hal tersebut tidak terjadi, penting untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan tanpa disadari saat menyiram monstera di musim hujan. Lantas apa saja kesalahan menyiram Monstera saat musim hujan yang bikin akar cepat busuk? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (7/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Menyiram Tanaman Meski Media Tanam Masih Basah
Banyak pemilik monstera tetap menyiram tanaman sesuai jadwal tanpa memeriksa kondisi media tanam terlebih dahulu. Kebiasaan ini menjadi salah satu penyebab utama akar cepat membusuk saat musim hujan. Curah hujan yang tinggi membuat kelembapan udara meningkat dan media tanam membutuhkan waktu lebih lama untuk mengering. Jika air terus ditambahkan ketika tanah masih lembap, ruang udara di dalam media tanam akan berkurang sehingga akar kesulitan mendapatkan oksigen.
Akar monstera membutuhkan keseimbangan antara air dan udara agar dapat menyerap nutrisi secara optimal. Ketika media tanam terlalu jenuh oleh air, akar akan mengalami stres karena terus berada dalam kondisi basah. Dalam situasi seperti ini, jamur dan bakteri penyebab busuk akar, seperti Pythium dan Phytophthora, lebih mudah berkembang. Akibatnya, akar berubah menjadi lunak, berwarna cokelat kehitaman, dan kehilangan kemampuannya menyerap air maupun unsur hara.
Cara terbaik untuk menghindari kesalahan ini adalah memeriksa kelembapan media sebelum menyiram. Gunakan jari atau stik kayu untuk mengecek bagian dalam media hingga kedalaman sekitar 3–5 cm. Jika masih terasa lembap, tunda penyiraman selama satu atau dua hari. Dengan menyesuaikan penyiraman berdasarkan kondisi media, bukan berdasarkan jadwal tetap, risiko akar busuk dapat dikurangi secara signifikan.
Advertisement
2. Menyiram dengan Volume Air Terlalu Banyak
Kesalahan berikutnya adalah memberikan air dalam jumlah berlebihan dengan anggapan tanaman akan lebih segar. Padahal, monstera tidak menyukai media tanam yang selalu tergenang. Saat musim hujan, kebutuhan air tanaman umumnya menurun karena penguapan berlangsung lebih lambat dibandingkan musim kemarau. Air yang terlalu banyak justru membuat media tanam kehilangan pori-pori udara yang dibutuhkan akar.
Genangan air di sekitar akar menyebabkan proses respirasi akar terganggu. Dalam kondisi normal, akar membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi yang digunakan menyerap nutrisi. Ketika seluruh pori media dipenuhi air, akar mulai mengalami kekurangan oksigen dan perlahan membusuk. Gejala awal biasanya berupa daun menguning, batang tampak lemas, serta pertumbuhan daun baru yang melambat.
Penyiraman sebaiknya dilakukan secara merata hingga air keluar melalui lubang drainase, tetapi tidak berlebihan hingga media menjadi becek dalam waktu lama. Sesuaikan volume air dengan ukuran pot, jenis media tanam, dan kondisi cuaca. Prinsipnya, lebih baik menyiram secukupnya ketika media mulai mengering daripada terlalu sering memberikan air dalam jumlah banyak.
Advertisement
3. Menggunakan Pot dengan Drainase yang Buruk
Drainase yang buruk sering kali menjadi penyebab utama media tanam tetap basah selama berhari-hari. Banyak orang memilih pot hanya berdasarkan tampilannya tanpa memperhatikan jumlah lubang pembuangan air. Akibatnya, air tertahan di dasar pot sehingga akar terus terendam meskipun penyiraman tidak terlalu sering.
Kondisi ini semakin berbahaya ketika musim hujan karena kelembapan lingkungan sudah tinggi. Air yang tidak dapat keluar dengan lancar membuat bagian bawah media menjadi sangat lembap. Akar muda yang berada di area tersebut paling rentan mengalami pembusukan karena terus bersentuhan dengan air dalam waktu lama.
Gunakan pot yang memiliki beberapa lubang drainase dan hindari menutup bagian bawahnya dengan bahan yang menghambat aliran air. Bila memakai tatakan pot, segera buang air yang menggenang setelah penyiraman selesai. Langkah sederhana ini mampu menjaga sirkulasi udara di sekitar akar sehingga media tanam lebih cepat mengering.
Advertisement
4. Tetap Menyiram Saat Tanaman Terkena Air Hujan
Sebagian orang tidak menyadari bahwa monstera yang diletakkan di teras atau halaman sudah memperoleh air dari hujan. Setelah hujan reda, tanaman kembali disiram seperti biasa sehingga jumlah air yang diterima menjadi berlipat ganda. Kebiasaan ini sering menjadi penyebab media tanam terlalu basah selama beberapa hari.
Meskipun monstera menyukai kelembapan, tanaman ini tidak dirancang untuk terus-menerus berada dalam kondisi jenuh air. Air hujan yang sudah membasahi media sebenarnya sering kali cukup memenuhi kebutuhan tanaman selama beberapa waktu. Menambahkan air lagi hanya akan meningkatkan risiko pembusukan akar dan mempercepat munculnya penyakit jamur.
Apabila monstera berada di area terbuka, selalu periksa kondisi media setelah hujan. Bila media sudah basah hingga bagian dalam, tunda penyiraman sampai kelembapannya berkurang. Memindahkan tanaman ke area yang terlindung dari hujan deras juga dapat membantu mengontrol kadar air dalam media.
Advertisement
5. Mengabaikan Kondisi Media Tanam yang Terlalu Padat
Media tanam yang sudah lama digunakan biasanya mengalami pemadatan akibat penyiraman berulang dan pelapukan bahan organik. Ketika media menjadi terlalu padat, kemampuan mengalirkan air akan menurun sehingga air lebih lama tertahan di sekitar akar. Pada musim hujan, kondisi ini semakin meningkatkan risiko pembusukan.
Monstera tumbuh lebih baik pada media yang gembur dan memiliki aerasi tinggi. Campuran seperti sekam bakar, cocopeat, kulit pinus, perlite, atau batu apung membantu menjaga keseimbangan antara kelembapan dan sirkulasi udara. Sebaliknya, media yang didominasi tanah halus akan lebih mudah memadat dan menyimpan air berlebihan.
Periksa kondisi media tanam secara berkala, terutama jika monstera sudah lama tidak direpoting. Bila media mulai keras, padat, atau sulit mengering, sebaiknya ganti dengan campuran baru yang lebih porous. Langkah ini tidak hanya mengurangi risiko akar busuk, tetapi juga mendukung pertumbuhan akar yang lebih sehat.
Advertisement
6. Menyiram pada Waktu yang Kurang Tepat
Waktu penyiraman juga memengaruhi kesehatan monstera selama musim hujan. Menyiram tanaman pada sore atau malam hari membuat media tetap lembap sepanjang malam karena suhu udara lebih rendah dan penguapan berlangsung lambat. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur penyebab penyakit.
Selain media tanam, daun yang basah dalam waktu lama juga lebih rentan terserang bercak daun dan infeksi jamur. Apalagi jika sirkulasi udara di sekitar tanaman kurang baik. Kombinasi kelembapan tinggi dan minim cahaya matahari membuat proses pengeringan berlangsung sangat lambat.
Waktu terbaik untuk menyiram monstera adalah pagi hari. Penyiraman pada pagi hari memberi kesempatan bagi media dan permukaan daun untuk mengering secara alami selama siang hari. Jika cuaca sedang hujan terus-menerus, kurangi frekuensi penyiraman dan sesuaikan dengan kondisi media tanam.
Advertisement
7. Tidak Memantau Tanda-Tanda Awal Busuk Akar
Kesalahan terakhir adalah mengabaikan perubahan kecil yang muncul pada tanaman. Banyak pemilik monstera baru menyadari adanya masalah ketika daun mulai rontok atau batang sudah membusuk. Padahal, busuk akar biasanya diawali oleh gejala ringan seperti daun menguning dari bagian bawah, media berbau tidak sedap, atau pertumbuhan tanaman berhenti.
Semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang tanaman untuk diselamatkan. Jika akar yang rusak belum terlalu banyak, tanaman masih dapat dipulihkan dengan menghentikan penyiraman sementara, memangkas akar yang membusuk, mengganti media tanam, dan memindahkannya ke pot yang memiliki drainase lebih baik. Penanganan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kerusakan semakin parah.
Biasakan memeriksa kondisi monstera secara rutin selama musim hujan, baik pada bagian daun, batang, maupun media tanam. Perawatan yang konsisten dan penyesuaian penyiraman sesuai kondisi lingkungan akan membantu menjaga akar tetap sehat sehingga monstera dapat tumbuh subur sepanjang tahun.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kesalahan Menyiram Monstera saat Musim Hujan yang Bikin Akar Cepat Busuk
1. Seberapa sering monstera perlu disiram saat musim hujan?
Tidak ada jadwal pasti. Siram hanya ketika bagian atas media tanam sudah mulai mengering, bukan berdasarkan hari tertentu.
2. Bagaimana cara mengetahui media tanam masih basah?
Cek dengan memasukkan jari atau stik kayu sekitar 3–5 cm ke dalam media tanam. Jika masih terasa lembap, tunda penyiraman.
3. Apa tanda-tanda akar monstera mulai membusuk?
Daun menguning, tanaman layu meski media basah, pertumbuhan melambat, dan akar berubah cokelat kehitaman serta bertekstur lembek.
4. Apakah monstera boleh terkena air hujan?
Boleh sesekali, tetapi jangan terlalu sering terkena hujan deras karena media tanam bisa menjadi terlalu basah dan memicu busuk akar.
5. Media tanam seperti apa yang cocok untuk monstera saat musim hujan?
Gunakan media tanam yang gembur dan cepat mengalirkan air, seperti campuran cocopeat, sekam bakar, perlite, kulit pinus, atau batu apung agar akar tetap sehat.