Tradisi Goroba Boti, Gerobak Pengantin Sapi di Sulawesi Tengah

Gerobak sapi yang biasa dipakai untuk membawa hasil panen padi disulap menjadi kendaraan pengantin. Dihiasi janur kuning di kanan kirinya dan tanaman yang menghiasi gerobak. Gerobak sapi ini siap mengantar mempelai pria menuju kediaman sang pujaan hati.

Tyas Titi Kinapti
Oleh Tyas Titi Kinapti - Reporter
Tradisi Goroba Boti, Gerobak Pengantin Sapi di Sulawesi Tengah
Gerobak Pengantin Sapi. ©2021 Merdeka.com/Cecep Aditya

Kendaraan pengantin menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat menggelar pesta pernikahan. Pada momen istimewa ini biasanya para pengantin memilih menggunakan mobil. Mobil pun dihias dengan rangkaian bunga dan pita untuk mempermanis tampilannya. Namun, tidak dengan yang satu ini.

Alih-alih menggunakan mobil, di suatu desa di pesisir Pantai Timur Parigi Moutong mereka menggunakan gerobak sapi untuk kendaraan di momen sakralnya. Gerobak beroda dua yang di tarik dua ekor sapi ini menjadi kendaraan rombongan pengantin pria menuju ke tempat pengantin wanita. Bukan karena ingin tampil beda, namun ini merupakan sebuah tradisi di Desa.Tomoli, Kecamatan Toribulu Kabupaten Parigi Moutong , Sulawesi Tengah.

Tradisi ini dinamakan Goroba Boti.Gerobak sapi yang biasa dipakai untuk membawa hasil panen padi disulap menjadi kendaraan pengantin. Dihiasi janur kuning di kanan kirinya dan tanaman yang menghiasi gerobak. Gerobak sapi ini siap mengantar mempelai pria menuju kediaman sang pujaan hati.

Menggunakan setelan jas pengantin berwarna hitam, sang mempelai pria terlihat berdiri gagah di atas gerobak sapi. Wajah sumringah, bahagia dan gugup tergambar jelas pada raut mukanya. Panas terik matahari tak menjadi hambatan.

Tak sendiri, mempelai pria di atas gerobak bersama sang ayah dan sanak saudara lainnya. Meski terlihat kecil, namun satu gerobak sapi beroda dua ini bisa membawa sekitar 6-7 orang. Dengan satu orang sebagai pengemudi yang membawa pecut di tangan.

Kendaraan gerobak sapi memiliki makna yang dalam pada tradisi ini. Sapi dan gerobak dianggap bak pasangan yang tak terpisahkan untuk petani. Saling membutuhkan dan melengkapi.

Begitu juga pernikahan, kelak pasangan suami istri saling membutuhkan dan melengkapi sesama pasangan. Kendaraan gerobak sapi ini juga mengajarkan arti kesederhanaan dalam berumah tangga. Hidup berumah tangga memang sebaiknya hidup dalam kesederhanaan.

Selain pengantin pria, beberapa anggota keluarga lainnya juga menggunakan gerobak sapi. Semakin banyak anggota keluarga, semakin panjang pulang gerobaknya. Mereka beriringan menuju kediaman mempelai wanita.

Setiap gerobaknya berwarna-warni, berhias janur kuning, tanaman pisang dan kertas berwarna-warni. Terlihat semarak dan meriah menyambut hari bahagia. Bunyi klentengan dan suara lenguhan sapi menemani setiap langkah kirab ini.

Tak ada gengsi dalam kirab sederhana tersebut, yang ada adalah senyuman lebar dari keluarga. Tradisi ini juga menjadi tontonan bagi warga sekitar. Ikut merasa bahagia menyaksikan momen sederhana nan romantis tersebut.

Tradisi Goroba Boti kini mulai jarang dilaksanakan oleh warga Sulawesi Tengah. Rela berpanas-panasan dan berdiri di atas gerobak yang ditarik oleh hewan mamalia berkaki empat ini. Mengikuti zaman, hanya segilintir orang saja yang masih mau melakukannya.

Selain menjaga tradisi, Goroba Boti akan menjadi momen pernikahan yang tak akan terlupakan. Sederhana namun membekas di ingatan.


Rekomendasi